Jakarta—Pertumbuhan kredit konsumsi perbankan terindikasi melambat pada triwulan IV 2025, meski transaksi kartu kredit justru meningkat signifikan. Bank Indonesia (BI) mencatat perlambatan kredit konsumsi terutama dipengaruhi melemahnya pembiayaan kendaraan bermotor, sementara kartu kredit menjadi penopang utama segmen konsumsi.
Gambaran tersebut tercermin dalam Survei Perbankan BI. Secara keseluruhan, penyaluran kredit baru pada triwulan IV 2025 tetap meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 88,92%, lebih tinggi dari triwulan III 2025 yang sebesar 82,33%.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan kinerja penyaluran kredit secara umum masih solid, terutama ditopang kredit produktif. “Peningkatan kredit baru terutama bersumber dari kredit modal kerja dan kredit investasi,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit modal kerja mencatat SBT 88,64% dan kredit investasi 87,32%. Sementara itu, kredit konsumsi hanya mencatat SBT 13,39%, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya.
Perlambatan kredit konsumsi dipengaruhi penurunan kredit kendaraan bermotor dengan SBT minus 2,14%. Pada saat yang sama, pertumbuhan kredit multiguna dan kredit tanpa agunan (KTA) juga melambat, masing-masing dengan SBT 21,38% dan 27,16%.
Di tengah pelemahan tersebut, kinerja kartu kredit justru menguat dengan SBT 70,81%. Adapun kredit pemilikan rumah atau kredit pemilikan apartemen (KPR/KPA) relatif stabil dengan SBT 48,00%.
Untuk triwulan I 2026, BI memprakirakan penyaluran kredit baru tetap tumbuh dengan SBT 55,74%, meski termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya. Kredit modal kerja diperkirakan masih menjadi prioritas utama perbankan, diikuti kredit investasi dan kredit konsumsi. Pada segmen konsumsi, KPR/KPA diproyeksikan tetap menjadi prioritas penyaluran kredit, disusul kredit multiguna dan KTA.
Dari sisi kebijakan, standar penyaluran kredit pada triwulan IV 2025 terindikasi lebih longgar dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal itu tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang bernilai negatif minus 2,59, dengan pelonggaran terutama pada aspek biaya persetujuan kredit, jangka waktu, serta suku bunga.
Namun, pada triwulan I 2026, standar penyaluran kredit diperkirakan kembali lebih berhati-hati dengan ILS 2,75. Meski demikian, responden Survei Perbankan memperkirakan outstanding kredit hingga akhir 2026 tetap tumbuh lebih tinggi, yakni mencapai 9,79% secara tahunan (yoy), dibandingkan realisasi sebelumnya sebesar 9,69% yoy.
Prospek pertumbuhan kredit tersebut didukung kondisi ekonomi dan moneter yang dinilai tetap baik, serta risiko penyaluran kredit yang masih terjaga.

