Bank Indonesia (BI) mencatat perekonomian Jawa Barat tetap menunjukkan kinerja solid sepanjang 2025. Pada triwulan IV 2025, ekonomi Jawa Barat tumbuh 5,85 persen (year on year/yoy), sementara secara keseluruhan tahun 2025 mencapai 5,32 persen. Capaian ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,11 persen.
BI menilai pertumbuhan tersebut terutama ditopang konsumsi rumah tangga yang masih kuat, meningkatnya mobilitas masyarakat, serta realisasi investasi yang tinggi. Sejumlah sektor menjadi penggerak utama, di antaranya industri pengolahan, perdagangan, transportasi, dan konstruksi.
Dari sisi investasi, Jawa Barat juga disebut masih menjadi tujuan investor. Sepanjang 2025, realisasi investasi tercatat sekitar Rp296,8 triliun, melampaui target sekaligus menjadi yang terbesar secara nasional.
Selain konsumsi dan investasi, perubahan perilaku pembayaran masyarakat turut mewarnai dinamika ekonomi daerah. BI mencatat penggunaan transaksi non-tunai, terutama melalui QRIS, meningkat signifikan sepanjang 2025. Volume transaksi QRIS tumbuh lebih dari 132 persen, sementara nilai transaksinya naik sekitar 93 persen. Pertumbuhan jumlah merchant juga berlanjut dan didominasi pelaku usaha mikro.
BI menilai digitalisasi pembayaran tersebut berkontribusi pada perluasan inklusi keuangan dan membantu memperluas pasar bagi UMKM. Dengan demikian, transaksi digital tidak hanya memudahkan aktivitas belanja masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil.
Dari sisi harga, inflasi Jawa Barat selama 2025 disebut tetap terjaga dalam rentang sasaran. Bahkan, pada Januari 2026 sempat terjadi deflasi yang dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai dan daging ayam.
Untuk 2026, BI memproyeksikan inflasi berada di kisaran target 2,5±1 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat diperkirakan tetap kuat dan berpotensi meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Ke depan, BI memperkirakan pendorong pertumbuhan masih berasal dari permintaan domestik dan investasi, serta dukungan sektor-sektor baru seperti pariwisata, ekonomi kreatif, ekonomi syariah, dan ekonomi hijau. BI juga menilai daya tahan ekonomi Jawa Barat masih cukup kuat dalam menghadapi tekanan global, dengan catatan konsumsi masyarakat dan investasi tetap terjaga sepanjang 2026.

