BERITA TERKINI
BI: Ekonomi RI Tumbuh pada Awal 2026, Risiko Perang Timur Tengah Perlu Diantisipasi

BI: Ekonomi RI Tumbuh pada Awal 2026, Risiko Perang Timur Tengah Perlu Diantisipasi

Bank Indonesia (BI) memaparkan kondisi ekonomi Indonesia di tengah memburuknya kondisi dan prospek perekonomian global akibat perang di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026. BI menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 meningkat, terutama ditopang oleh permintaan domestik.

BI menjelaskan konsumsi rumah tangga naik seiring peningkatan permintaan terkait perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta perbaikan penghasilan pada sejumlah kelompok pendapatan. Peningkatan itu disebut bersumber dari pemberian Tunjangan Hari Raya (THR), belanja sosial pemerintah, dan berbagai insentif pemerintah lainnya.

Dari sisi investasi, BI memprakirakan kinerja tetap baik. Dorongan utama berasal dari akselerasi investasi pemerintah, termasuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan investasi Danantara.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan dampak memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global akibat perang Timur Tengah perlu diantisipasi dan direspons secara tepat agar momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga. BI menekankan penguatan sinergi kebijakan pemerintah, Bank Indonesia, dan pemangku kepentingan lain guna menjaga permintaan domestik dan mendukung pertumbuhan ekonomi dalam kisaran 4,9%–5,7%.

Di sektor eksternal, neraca perdagangan pada Januari 2026 mencatat surplus US$ 1,0 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus Desember 2025 sebesar US$ 2,5 miliar. Penurunan surplus tersebut dikaitkan dengan perlambatan permintaan dunia terhadap ekspor nonmigas.

Sementara itu, aliran modal dan finansial pada Januari–Februari 2026 secara kumulatif mencatat net inflows US$ 1,6 miliar, ditopang aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Namun pada Maret 2026, investasi portofolio mencatat net outflows US$ 1,1 miliar seiring meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah.

BI juga melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 terjaga sebesar US$ 151,9 miliar. Jumlah itu setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Ke depan, BI menilai penurunan prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan kenaikan harga minyak global perlu menjadi perhatian karena berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan menuju batas atas kisaran defisit 0,9% hingga 0,1% dari PDB. Dalam konteks tersebut, BI menyatakan sinergi kebijakan untuk memperkuat kinerja neraca pembayaran dan ketahanan eksternal, termasuk membangun kepercayaan investor global, akan terus ditingkatkan.

Dari sisi harga, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 tercatat 4,76% (year on year/yoy). BI menyebut inflasi tersebut terutama dipengaruhi faktor temporer base effect dari kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50% pada Januari dan Februari 2025.

Inflasi inti dilaporkan tetap terjaga sebesar 2,63% (yoy), terutama didorong kenaikan harga emas. Adapun inflasi kelompok volatile food tercatat 4,64% (yoy) dan dinilai tetap terjaga di tengah peningkatan permintaan pada periode perayaan HBKN Tahun Baru Imlek serta Ramadan 1447 H, sekaligus penurunan pasokan akibat gangguan cuaca.

BI memandang inflasi IHK pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%, meski lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya karena dipengaruhi prospek kenaikan harga komoditas global. BI menilai inflasi inti diprakirakan tetap terkendali, sementara inflasi volatile food berpotensi meningkat seiring kenaikan harga pangan dan pupuk global.