Bank Indonesia (BI) menyatakan ekonomi domestik menunjukkan penguatan pada kuartal I 2026, meski nilai tukar rupiah mengalami tekanan di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 meningkat dan terutama ditopang permintaan domestik. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026, Selasa (17/3/2026).
Menurut Perry, konsumsi rumah tangga meningkat seiring kebutuhan terkait Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Peningkatan ini turut didorong kenaikan pendapatan masyarakat dari Tunjangan Hari Raya (THR), belanja sosial pemerintah, serta berbagai insentif lainnya.
Di sisi lain, investasi dinilai tetap kuat, terutama dipengaruhi akselerasi belanja pemerintah. Perry menyebut antara lain program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan investasi melalui Danantara sebagai faktor pendorong.
Namun, BI mencatat tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan gejolak global. Pada 16 Maret 2026, rupiah berada di level Rp 16.985 per dolar AS atau melemah 1,29 persen dibandingkan posisi akhir Februari 2026. Perry menilai memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah berdampak pada pelemahan nilai tukar dan keluarnya arus modal dari negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia.
BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 melambat menjadi sekitar 3,1 persen dari sebelumnya 3,2 persen, seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI memperkuat kebijakan melalui intervensi di pasar keuangan, baik di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri maupun transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di dalam negeri. Selain itu, BI mengoptimalkan instrumen moneter untuk meningkatkan aliran masuk modal asing serta memperkuat kinerja neraca pembayaran.
Ke depan, BI meyakini stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga, didukung komitmen kebijakan, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai masih positif. Perry menegaskan BI akan terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global.
BI juga menyatakan akan memperkuat sinergi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dalam kisaran 4,9–5,7 persen, sekaligus memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga.