Prospek ekonomi global pada 2026 diperkirakan melambat menjadi 3,2 persen, turun dari 3,3 persen pada 2025, dengan perbedaan laju pertumbuhan antarnegara yang kian terlihat.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan perlambatan tersebut dipengaruhi kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta meningkatnya tensi geopolitik. Ia menyebut ekonomi Eropa dan Jepang diprakirakan melambat, sementara Tiongkok dan India juga menghadapi lemahnya permintaan domestik.
Pernyataan itu disampaikan Perry saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Februari 2026, termasuk pemaparan kondisi ekonomi terkini, dari kantor pusat BI di Jakarta melalui siaran langsung kanal YouTube dan Instagram pada Kamis (19/2/2026).
Di pasar keuangan global, Perry menyampaikan ruang penurunan Fed Funds Rate masih terbuka. Namun, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor panjang tetap tinggi seiring adanya risiko fiskal.
Di tengah kondisi global tersebut, kinerja ekonomi Indonesia dinilai lebih baik. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat 5,39 persen (year on year/yoy), meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 5,04 persen (yoy).
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen (yoy), lebih tinggi dari 2024 yang sebesar 5,03 persen (yoy). Perry juga menyebut capaian tersebut disertai perbaikan kualitas ketenagakerjaan.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi berlanjut pada triwulan I 2026. Proyeksi tersebut ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, serta momentum Hari Besar Keagamaan Nasional.

