Jakarta — Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan perekonomian global masih akan menghadapi tekanan pada 2025 dan 2026. Menurutnya, kondisi ini dipicu fragmentasi pertumbuhan antarnegara yang mendorong ketidakpastian tinggi di pasar global, termasuk pasar keuangan.
Perry menyampaikan, ketidakpastian tersebut dipengaruhi kebijakan tarif baru yang diterapkan pemerintah Amerika Serikat (AS) serta berlanjutnya ketegangan geopolitik global. Kombinasi faktor itu dinilai menahan laju pertumbuhan ekonomi dunia dan memperbesar volatilitas di pasar keuangan global.
Ia merinci, pada April 2025 pemerintah AS menerapkan kebijakan tarif resiprokal yang semula mencakup 44 negara, kemudian diperluas menjadi 70 negara. Tarif tinggi dikenakan tidak hanya kepada Tiongkok, Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa, tetapi juga kepada sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia.
“Kebijakan tarif yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat ini kemudian berdampak kepada pola perdagangan dunia dan juga pada melambatnya pertumbuhan ekonomi,” kata Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu, 12 November.
Sejalan dengan itu, Perry memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2025 sebesar 3,1 persen, turun dari 3,3 persen pada 2024. Pelemahan diperkirakan berlanjut pada 2026, dengan pertumbuhan sekitar 3 persen.
Ia menilai perbedaan laju pertumbuhan antarnegara mencerminkan dinamika ekonomi global yang semakin terpecah. Perry menyebut pertumbuhan ekonomi AS dan Tiongkok cenderung melambat, sementara beberapa negara lain dinilai masih cukup baik seperti Uni Eropa dan India. Namun, secara umum pertumbuhan pada 2025 disebut lebih rendah dibandingkan 2024.
Selain berdampak pada perdagangan dan pertumbuhan, Perry menilai kebijakan tarif AS turut memperlambat tren penurunan inflasi global. Ia menyebut kebijakan tersebut memicu peningkatan inflasi di sejumlah negara, termasuk AS.
Dalam proyeksinya, inflasi global pada tahun ini diperkirakan 4,3 persen dan pada 2026 diprediksi menurun menjadi 4,1 persen. Namun, Perry menekankan laju penurunannya menjadi lebih lambat dan di beberapa negara justru menunjukkan kecenderungan meningkat.

