BERITA TERKINI
Belanja Menjelang Lebaran: Antara Tradisi Tampil Terbaik, FOMO, dan Pentingnya Skala Prioritas

Belanja Menjelang Lebaran: Antara Tradisi Tampil Terbaik, FOMO, dan Pentingnya Skala Prioritas

Menjelang Idul Fitri, aktivitas ekonomi rumah tangga di berbagai daerah di Indonesia cenderung meningkat. Pasar tradisional ramai, pusat perbelanjaan dipadati pengunjung, sementara platform e-commerce berlomba menawarkan diskon besar-besaran. Di tengah suasana tersebut, belanja tidak lagi sekadar urusan konsumsi, melainkan juga berkaitan dengan budaya, status sosial, hingga tekanan psikologis yang semakin kompleks.

Salah satu pemicunya adalah tradisi “tampil terbaik” saat hari raya. Baju baru, sarung baru, hingga alas kaki baru kerap dipandang sebagai simbol kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun, dalam praktiknya, tradisi itu dinilai kerap bergeser dari makna spiritual menuju ajang pembuktian sosial di lingkungan pergaulan.

Di titik ini muncul dilema antara kebutuhan dan keinginan. Sebagian keluarga merasa terdorong mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal, sebuah fenomena yang sering dikaitkan dengan FOMO (fear of missing out). Tekanan tersebut disebut tidak selalu berasal dari kebutuhan riil, melainkan dari persepsi sosial yang terbentuk melalui lingkungan dan media.

Contohnya terlihat pada pilihan produk fesyen premium seperti sarung merek tertentu yang harganya dapat mencapai jutaan rupiah. Produk semacam itu memang kerap dipandang unggul dari sisi bahan, kenyamanan, dan estetika. Namun pertanyaan yang mengemuka adalah apakah semua orang benar-benar membutuhkan barang dengan harga setinggi itu hanya untuk momentum Lebaran.

Dari perspektif literasi finansial, keputusan konsumsi idealnya didasarkan pada skala prioritas. Kebutuhan primer seperti pangan, zakat, biaya transportasi mudik, serta kebutuhan keluarga dianjurkan menjadi fokus utama. Sementara kebutuhan sekunder dan tersier, termasuk fesyen premium, perlu ditempatkan secara proporsional sesuai kemampuan.

Maraknya promo dan diskon menjelang Idul Fitri juga dinilai dapat membantu apabila dimanfaatkan secara bijak. Potongan harga tersedia untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan pokok, pakaian sederhana, hingga perlengkapan ibadah. Namun, situasi ini sekaligus menjadi ujian: apakah pembelian dilakukan karena kebutuhan, atau semata tergoda label “diskon besar”.

Strategi belanja cerdas tidak berarti menahan diri secara ekstrem, melainkan mengelola keputusan secara sadar. Beberapa langkah sederhana yang kerap disarankan antara lain membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja, menetapkan anggaran, dan membandingkan harga antar platform. Cara-cara tersebut dapat membantu menekan pengeluaran impulsif yang sering terjadi saat musim promo.

Di sisi lain, perhatian berlebihan pada penampilan berpotensi mengaburkan esensi Idul Fitri sebagai momentum silaturahmi, saling memaafkan, dan berbagi. Tekanan sosial disebut kerap lebih kuat di kalangan urban dan kelas menengah yang intens terpapar media sosial, mulai dari viralnya tren busana, promosi selebgram, hingga konten “unboxing Lebaran” yang membentuk standar baru yang tidak selalu realistis.

Padahal, dalam berbagai kearifan lokal, masyarakat Nusantara telah lama mengenal prinsip “cukup” dan “pantang berlebihan”. Nilai ini selaras dengan konsep keuangan modern yang menekankan keberlanjutan dan keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan.

Pada akhirnya, diskon bukanlah masalah, melainkan keputusan belanja tanpa pertimbangan. Menggeser orientasi dari FOMO menuju kebutuhan prioritas dinilai dapat membantu kesehatan finansial jangka panjang, termasuk membuka ruang untuk tabungan, investasi, atau dana darurat, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Membeli barang berkualitas tetap dimungkinkan, tetapi idealnya dilakukan sebagai pilihan sadar sesuai kemampuan, bukan karena tekanan sosial.

Idul Fitri, pada akhirnya, tidak semata ditentukan oleh apa yang dikenakan, melainkan bagaimana perayaan dimaknai. Belanja dan menikmati promo sah dilakukan, selama kendali tetap berada pada diri sendiri dan keputusan diambil dengan pertimbangan yang matang.