Ketiadaan perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (IPO) sepanjang kuartal I 2026 dinilai belum berdampak signifikan terhadap kinerja pasar modal. Hingga pertengahan Maret 2026, aktivitas perdagangan saham masih berjalan kuat meski belum ada penambahan emiten baru.
Analis Ekonomi Divisi Riset BEI, Anita Kezia, mengatakan rata-rata nilai transaksi harian di bursa tetap menunjukkan pertumbuhan dengan ditopang emiten yang sudah tercatat. Ia menilai belum adanya IPO pada awal tahun ini tidak serta-merta menekan aktivitas perdagangan.
Menurut Anita, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) BEI saat ini masih berada di kisaran Rp30 triliun. Angka tersebut mencerminkan perdagangan saham yang tetap aktif meskipun kuartal pertama tahun ini belum diwarnai IPO.
Ia menjelaskan, pergerakan nilai transaksi di BEI pada umumnya lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan saham perusahaan yang telah tercatat serta sentimen pasar yang berkembang. Dengan demikian, IPO bukan faktor utama yang menentukan tinggi rendahnya transaksi di bursa.
Meski begitu, Anita menyebut dampak IPO terhadap likuiditas pasar juga bergantung pada ukuran perusahaan yang melantai. IPO dari perusahaan besar berpotensi memberi kontribusi lebih besar dibanding perusahaan skala kecil atau menengah.
Secara keseluruhan, perdagangan saham di BEI hingga pertengahan Maret 2026 disebut masih terjaga. BEI tetap menargetkan penambahan emiten baru melalui IPO sebagai bagian dari upaya memperdalam pasar modal dan memperluas pilihan investasi bagi investor.