Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengumumkan daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Kebijakan ini segera menyedot perhatian pelaku pasar karena dinilai berpotensi memicu tekanan harga saham dalam jangka pendek sekaligus memunculkan perdebatan mengenai transparansi.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengakui, pengumuman HSC dapat menimbulkan konsekuensi awal di pasar, termasuk potensi tekanan jual dan penyesuaian dari investor global.
“Secara realistis kami melihat memang potensi itu untuk jangka pendek ada,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Senin, 6 April 2026.
Menurutnya, peningkatan transparansi melalui pengumuman HSC dapat memicu respons dari penyedia indeks global (global index provider), termasuk kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia pada fase awal.
“Ada potensi misalnya satu atau dua hal yang membuat global index provider untuk jangka pendek ini menurunkan bobot,” katanya.
Meski demikian, BEI menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari reformasi jangka panjang untuk memperbaiki kualitas pasar. Jeffrey menyatakan keyakinannya bahwa dampak jangka panjang justru akan positif.
“Kami meyakini untuk jangka panjang bobot Indonesia di global index provider akan naik,” ujarnya.
HSC merujuk pada kondisi ketika saham suatu emiten dikuasai oleh sejumlah kecil investor dalam porsi besar. Dalam pengumuman terbaru per 2 April 2026, BEI memaparkan sejumlah saham dengan tingkat konsentrasi sangat tinggi, di atas 95%.
Daftar itu mencakup PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan konsentrasi 97,31%, PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) 97,75%, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) 95,76%, PT Ifishdeco Tbk (IFSH) 99,77%, serta PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) 99,85%.
Selain itu, terdapat PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) 95,35%, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) 95,47%, PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) 95,94%, dan PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) 98,35%.
BEI menekankan bahwa status HSC bukan pelanggaran maupun bentuk sanksi. Jeffrey mengatakan, tingginya konsentrasi tidak otomatis berarti pemegang saham tersebut terafiliasi dengan perusahaan.
“High Shareholding Concentration itu by nature bukanlah sanksi. Bukan bentuk pelanggaran,” tegasnya.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa saham berstatus HSC otomatis tidak memenuhi ketentuan free float. Menurutnya, saham tersebut tetap bisa masuk kategori free float, namun kepemilikannya terkonsentrasi pada kelompok investor tertentu.
“Bisa saja sebagian besar itu masih free float, tetapi jumlah pemegang sahamnya hanya tertentu,” jelas Jeffrey.
Di sisi lain, kebijakan ini memunculkan pertanyaan mengapa BEI hanya mengungkap persentase konsentrasi tanpa membeberkan siapa pemegang sahamnya. Jeffrey menyebut hal itu terkait metodologi dan integritas pengawasan pasar.
“Kalau seluruh metodologi itu dibuka kepada publik, tentu nanti akan ada upaya-upaya dari pihak tertentu untuk menyesuaikan kondisi dengan metodologi tersebut,” ujarnya.
BEI menyatakan sengaja tidak membuka detail pemegang saham maupun formula penilaian secara penuh untuk mencegah rekayasa struktur kepemilikan yang berpotensi menghindari deteksi konsentrasi.
“Tentu itu tidak kami inginkan. Kami ingin ini berbasis mekanisme pasar yang wajar dan teratur,” kata Jeffrey.
Pendekatan tersebut disebut mengacu pada praktik bursa global seperti Hong Kong, dengan pengungkapan terbatas guna menjaga objektivitas regulator. Meski tidak dibuka ke publik, metodologi itu disebut tetap dapat diaudit oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Status HSC juga memunculkan kekhawatiran terkait karakter saham. Secara umum, saham dengan kepemilikan terkonsentrasi sering dikaitkan dengan likuiditas yang lebih rendah dan potensi volatilitas yang lebih tinggi, sehingga lebih mudah mengalami lonjakan atau penurunan harga secara tajam.
Namun BEI menegaskan tidak serta-merta mengategorikan saham HSC sebagai saham berbahaya atau pasti dimanipulasi.
“Bagi kami sifatnya netral,” ujar Jeffrey.
Ia menambahkan, keputusan investasi tetap berada di tangan pelaku pasar. Sebagian investor dapat memilih menghindari saham dengan konsentrasi tinggi, sementara yang lain mungkin melihatnya sebagai peluang, terutama ketika terjadi koreksi harga.
BEI juga menyatakan emiten memiliki peluang untuk keluar dari status HSC dengan meningkatkan distribusi saham ke publik. Jika struktur kepemilikan dinilai lebih tersebar, bursa akan melakukan evaluasi ulang.