KUALA KAPUAS — Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kapuas, Kalimantan Tengah, menyatakan perekonomian Kabupaten Kapuas terus menunjukkan tren positif setelah pandemi. Kepala Bapperida Kapuas Ahmad M. Saribi mengatakan, pada 2024 laju pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 4,95 persen.
Menurut Ahmad, capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Kalimantan Tengah, meski masih berada di bawah tingkat nasional. Ia menambahkan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi tulang punggung utama perekonomian daerah.
Pernyataan itu disampaikan Ahmad saat menerima kunjungan Tim Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka kegiatan sampling daerah dan fasilitasi pemeriksaan lapangan pendahuluan kinerja ketahanan pangan di Kabupaten Kapuas.
Dari sisi pembangunan daerah, Pemerintah Kabupaten Kapuas telah menetapkan visi jangka panjang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045, yakni “Kapuas Sejahtera 2045” dengan arah Maju, Unggul, Mandiri, dan Berkelanjutan.
Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan memaparkan konsumsi pangan masyarakat Kapuas secara umum tergolong baik, meski masih sedikit di bawah standar nasional. Kontribusi utama konsumsi berasal dari padi-padian, pangan hewani, minyak dan lemak, serta gula. Tingkat keragaman konsumsi pangan juga dinilai cukup baik, tercermin dari skor Pola Pangan Harapan (PPH) sebesar 87,4.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kapuas Edi Dese menambahkan, Kapuas menjadi salah satu daerah pelaksana Program Strategis Nasional di bidang ketahanan pangan sejak 2020 melalui pengembangan kawasan Food Estate yang kini dikenal sebagai Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP).
Menurut Edi, program tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi. Ekstensifikasi dilakukan untuk menambah luas lahan sawah baru. Ia juga menjelaskan Kapuas memiliki dua karakteristik lahan, yakni wilayah pasang surut di 12 kecamatan dan non-pasang surut di lima kecamatan.
Edi menyebut lahan sawah di Kapuas mencakup lebih dari 45 persen dari total baku lahan sawah di Kalimantan Tengah. Adapun kontribusi produksi padi Kapuas terhadap provinsi disebut mencapai sekitar 41 persen pada 2024.

