Wakil Gubernur Bank Negara Vietnam (SBV) Pham Thanh Ha menyatakan otoritas moneter akan terus menerapkan kebijakan yang proaktif dan fleksibel untuk menjaga kecukupan pasokan modal bagi perekonomian, sekaligus mempertahankan stabilitas suku bunga dan nilai tukar di tengah fluktuasi pasar internasional.
Pernyataan itu disampaikan Pham Thanh Ha saat menjawab pertanyaan dalam konferensi pers pemerintah rutin bulan Februari yang digelar Kantor Pemerintah pada sore hari 4 Maret di Hanoi. Ia menilai, dari akhir 2025 hingga awal 2026 ekonomi global diperkirakan berkembang secara kompleks, sehingga menimbulkan tantangan bagi pengelolaan kebijakan moneter dan operasional perbankan.
Menurut Pham Thanh Ha, dengan mengikuti arahan Pemerintah dan Perdana Menteri, SBV telah menerapkan langkah-langkah manajemen untuk berkontribusi pada pengendalian inflasi, stabilitas makroekonomi, dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Salah satu fokusnya adalah koordinasi berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memenuhi kebutuhan pembayaran dan pencairan dana perekonomian, terutama pada periode puncak akhir tahun lalu.
Ia menjelaskan suku bunga di pasar bergerak mengikuti penawaran dan permintaan. Suku bunga pinjaman baru disebut cenderung menurun, sehingga membantu pelaku usaha dan individu mengakses kredit. Pada saat yang sama, pasar uang dinilai tetap stabil dan pertumbuhan kredit menunjukkan perkembangan positif sejak awal tahun.
Per 26 Februari 2026, kredit beredar di seluruh sistem mencapai 18,86 juta VND, naik 1,4% dibanding akhir 2025 dan meningkat 20,18% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, nilai tukar dikelola secara fleksibel sesuai kondisi pasar, dengan seluruh kebutuhan valuta asing yang sah dari pelaku usaha dan individu dikatakan terpenuhi sepenuhnya dan tepat waktu.
SBV mencatat pada akhir Februari 2026, nilai tukar rata-rata di pasar antarbank berada di sekitar 26.044 VND per dolar AS, turun 0,94% dibanding akhir 2025 seiring melimpahnya pasokan valuta asing. Namun, Pham Thanh Ha menyebut ketegangan terbaru di Timur Tengah mendorong nilai tukar cenderung naik, meski masih dalam lingkup pemantauan dan pengelolaan otoritas. Hingga siang hari pada hari penyampaian pernyataan tersebut, nilai tukar antarbank tercatat 26.220 VND per dolar AS.
Pham Thanh Ha menekankan situasi internasional saat ini kompleks dan sulit diprediksi. Dengan karakter ekonomi Vietnam yang sangat terbuka, perekonomian domestik dinilai rentan terhadap gejolak eksternal. Karena itu, pengelolaan kebijakan moneter harus mampu mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi.
Ia juga menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak, kadang mencapai sekitar 8–13%. Kondisi tersebut menciptakan tekanan inflasi di banyak negara. Dalam situasi ini, bank sentral utama dunia disebut lebih berhati-hati menurunkan suku bunga, bahkan sebagian mengisyaratkan kemungkinan menaikkan suku bunga pada Maret untuk mengendalikan inflasi, yang pada gilirannya menambah tekanan terhadap nilai tukar dan pasar mata uang domestik.
Menghadapi dinamika tersebut, SBV menyatakan akan terus memantau perkembangan secara cermat dan mengelola kebijakan moneter secara proaktif serta fleksibel. SBV juga menegaskan akan berkoordinasi erat dengan kebijakan fiskal dan kebijakan makroekonomi lainnya untuk tetap mengejar sasaran pengendalian inflasi, stabilisasi ekonomi makro, dan dukungan bagi pertumbuhan berkelanjutan.
Secara spesifik, SBV akan mengelola suku bunga berdasarkan perkembangan pasar, kondisi makroekonomi, dan inflasi, serta terus mewajibkan lembaga kredit mematuhi ketentuan pengungkapan suku bunga pinjaman kepada publik. Di saat yang sama, otoritas akan melanjutkan pengelolaan nilai tukar secara fleksibel dan mengoordinasikan instrumen kebijakan moneter guna menstabilkan pasar serta memastikan kelancaran operasi pasar valuta asing.
Untuk kebijakan kredit, SBV akan mengelola pertumbuhan kredit sejalan dengan perkembangan makroekonomi dan pasar uang. Lembaga kredit akan diarahkan agar pertumbuhan kredit tetap aman dan efisien, dengan penyaluran modal ke sektor produksi dan bisnis, bidang prioritas, serta pendorong pertumbuhan ekonomi. Pemberian kredit ke sektor yang berpotensi berisiko akan dikontrol secara ketat.
SBV juga mewajibkan lembaga kredit memperkuat peninjauan dan menyederhanakan prosedur pemberian kredit, sekaligus mendorong penerapan transformasi digital dalam proses pemberian pinjaman guna memudahkan masyarakat dan pelaku usaha mengakses pembiayaan perbankan.

