Jakarta – Bank berbasis teknologi atau bank digital mulai mengadopsi strategi baru untuk mendorong pertumbuhan penyaluran pinjaman, yakni dengan memperluas produk pinjaman langsung (direct lending) yang dapat diakses nasabah melalui aplikasi. Langkah ini menandai upaya diversifikasi, setelah selama ini pertumbuhan bank digital banyak ditopang kolaborasi dengan ekosistem digital.
Dari 10 bank berbasis teknologi yang terpantau, sebanyak 9 bank telah memiliki produk direct lending di aplikasi. Produk yang ditawarkan umumnya berupa pinjaman tunai atau PayLater dengan variasi tenor. Tenor terpendek tercatat 6 bulan, seperti bluExtraCash BCA Digital dan Krom Kredit, sementara tenor terpanjang mencapai 30 bulan, seperti Tunaiku Bank Amar serta Pinjaman Atur Sendiri Superbank.
Dari sisi harga, suku bunga dan skema perhitungan juga beragam. Ada produk yang menawarkan bunga mulai 1,39 persen flat per bulan, seperti Jago Dana Cepat, sementara sebagian lain menggunakan perhitungan harian, seperti Neo Pinjam dan Superbank PAS.
Direktur Utama Bank Jago Arief Harris Tandjung menyatakan direct lending menjadi strategi untuk mengembangkan mesin penyaluran pinjaman secara organik. Menurut dia, dalam empat tahun terakhir pertumbuhan Bank Jago yang pesat masih terutama ditopang oleh kolaborasi bersama mitra dari ekosistem dan partner digital.
“Kolaborasi dengan mitra ekosistem terus menjadi kontributor utama bisnis kami. Namun, kami juga menyadari pentingnya melakukan diversifikasi, konsisten berinovasi, serta menciptakan produk dan layanan yang mampu memberikan kontribusi signifikan di masa depan,” ujarnya dalam acara media gathering di Malang, beberapa waktu lalu.
Bank Jago telah merilis Jago Dana Cepat sejak Oktober 2024 untuk memenuhi kebutuhan nasabah. Direktur Bank Jago Sonny C. Joseph menjelaskan fasilitas pinjaman dapat berbeda untuk setiap nasabah, salah satunya ditentukan oleh riwayat transaksi dan profiling nasabah.
“Teknologi memampukan kami untuk mengukur profil risiko setiap debitur. Jadi, plafon kredit dan bunga yang kami kenakan bisa berbeda antara satu nasabah dengan nasabah lainnya,” katanya.
Produk tersebut juga mengusung konsep responsible lending atau pembiayaan yang bertanggung jawab, dengan penekanan pada transparansi, kemampuan bayar, dan edukasi finansial agar nasabah dapat mengambil keputusan yang bijak.
Ke depan, Bank Jago berencana meluncurkan Jago Dana Siaga, produk pinjaman yang ditujukan untuk kebutuhan dana darurat atau pengeluaran tidak terduga. Produk ini disebut sebagai lanjutan dari inovasi Jago Dana Cepat, dengan tenor yang lebih pendek.
Meski begitu, kontribusi direct lending terhadap total portofolio pinjaman Bank Jago saat ini masih terbatas, di kisaran 4 persen–5 persen. Bank Jago menargetkan kontribusi tersebut meningkat bertahap dalam 4–5 tahun mendatang.
Secara keseluruhan, penyaluran kredit Bank Jago tercatat tumbuh 36 persen menjadi Rp23,5 triliun per September 2025. Dari total outstanding kredit tersebut, sebanyak 96 persen berasal dari Partnership & Ecosystem Lending.
Ekspansi kredit tetap dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. Hal itu tercermin dari rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross yang berada di level 0,4 persen, di bawah rata-rata NPL industri perbankan.
Per September 2025, Bank Jago mencatat basis nasabah 18,6 juta. Dengan langkah memperluas direct lending, bank ini menempatkan diversifikasi produk pinjaman sebagai salah satu strategi untuk memperkuat pertumbuhan ke depan.

