Pemerintah Amerika Serikat (AS) menilai pelonggaran sanksi terhadap sektor minyak Rusia tidak akan memberi keuntungan finansial besar bagi Moskow. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut potensi tambahan pendapatan Rusia dari kebijakan tersebut diperkirakan hanya sekitar 2 miliar dolar AS, berdasarkan analisis internal pemerintah.
Menurut Bessent, fokus utama kebijakan ini bukan untuk memperbesar ruang pendapatan Rusia, melainkan menjaga stabilitas harga minyak global. Ia berpendapat stabilitas harga justru lebih efektif membatasi pendapatan Rusia dibanding sanksi yang terlalu ketat tetapi berisiko mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Dalam wawancara resmi pada Senin (23/3/2026), Bessent mempertanyakan pilihan kebijakan yang paling menekan keuntungan Rusia: membiarkan harga minyak naik hingga 150 dolar AS, atau menjaga harga tetap di bawah 100 dolar AS sehingga pendapatan Rusia lebih rendah.
Pencabutan sebagian sanksi terkait minyak Rusia yang diangkut kapal tanker di laut dilaporkan telah dimulai sejak 13 Maret 2026. Langkah ini diambil untuk menstabilkan pasar energi global yang sempat terguncang akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Namun, kebijakan tersebut menuai kritik dari sejumlah pihak di Eropa dan Ukraina. Presiden Dewan Eropa António Costa menyampaikan kekhawatiran bahwa pelonggaran sanksi dapat memberi tambahan dukungan logistik bagi Rusia dalam melanjutkan konflik di Ukraina.
Menanggapi kritik itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan pengetatan sanksi terhadap minyak Rusia akan diberlakukan kembali setelah situasi keamanan di Timur Tengah mereda. Ia menegaskan kebijakan saat ini diambil sebagai upaya menyeimbangkan tekanan geopolitik dan kebutuhan energi global.
Selain Rusia, Departemen Keuangan AS juga diketahui melonggarkan sanksi terhadap minyak Iran per 21 Maret 2026. Langkah ini mencerminkan upaya AS mengendalikan pasar energi dunia di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang dan penuh ketidakpastian.