Ancaman penutupan Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan politik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran mengguncang pasar ekonomi global. Selat Hormuz merupakan jalur vital penyaluran ekspor minyak dunia, sehingga setiap gangguan pada rute ini dinilai berpotensi memicu gejolak harga dan menekan perekonomian global.
Jika Iran merealisasikan penutupan Selat Hormuz, dampaknya diperkirakan signifikan. Setidaknya sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari disebut dapat terhambat. Dalam skenario terburuk, para ahli yang dikutip The Guardian memperkirakan harga minyak dapat melonjak dari sekitar US$67 per barel pada Jumat malam menjadi US$100 per barel.
Pasar keuangan juga memprakirakan kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 9% menjadi US$73 per barel pada Senin (2/3/2026). Sementara itu, Rystad Energy memprediksi harga minyak mentah berpotensi melesat hingga US$90 per barel. Menurut proyeksi tersebut, lonjakan drastis hanya dapat dihindari jika terjadi penurunan ketegangan secara cepat pada hari Minggu, sebelum pasar minyak New York kembali melanjutkan perdagangan.
Analis Senior di S-RM, Tamsin Hunt, menilai dalam skenario kampanye AS, setiap serangan terhadap jalur produksi dan pasokan minyak Iran dapat mengganggu aliran ke mitra dagang utama Iran, yakni China, sehingga mendorong kenaikan harga secara global. Meski demikian, hingga kini Iran belum secara resmi mendeklarasikan akan menutup selat tersebut.
Hunt juga menekankan bahwa penutupan penuh Selat Hormuz akan berdampak besar bagi perekonomian Iran sendiri, karena berarti menghentikan seluruh ekspor minyak dan barang lainnya. “Menutup selat sepenuhnya akan sangat merugikan perekonomian Iran sendiri, karena itu berarti menghentikan semua ekspor minyak dan barang lainnya. Iran kemungkinan hanya akan menutup selat sebagai upaya terakhir jika rezim merasa kelangsungan hidupnya terancam,” ujarnya.
Pakar Pasar Energi ICIS, Ajay Parmar, turut menilai penutupan selat kemungkinan menjadi taktik pilihan terakhir bagi Iran. “Menutup selat itu akan menjadi taktik pilihan terakhir bagi Iran. Kita akan melihat hal ini dalam skenario perang terbuka,” katanya. Parmar juga berharap Presiden AS Donald Trump dapat mengambil kebijakan untuk menghindari eskalasi yang berujung pada lonjakan harga minyak global, seraya menyinggung potensi meningkatnya biaya bagi pemilih AS menjelang pemilihan paruh waktu pada November.
Selat Hormuz adalah selat laut sempit di antara Iran dan Oman yang menjadi arteri utama perdagangan dunia. Sekitar 20% dari seluruh minyak mentah yang diperdagangkan secara global setiap hari melewati jalur ini. Letaknya menjadikan Selat Hormuz titik rawan penting untuk pengiriman minyak dari negara-negara OPEC ke pelanggan di Asia, sementara pilihan rute alternatif untuk menghindari selat tersebut disebut sangat terbatas.
Iran sendiri merupakan negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar keempat di dunia, dengan cadangan sekitar 170 miliar barel atau sekitar 9% dari total minyak mentah global. Para ahli yang dikutip The Guardian menyebut meskipun ekspor minyak mentah Iran hanya mencakup sekitar 3–4% dari pasar global, pengaruhnya terhadap pasar minyak dunia jauh melampaui angka produksi tersebut, terutama karena posisi strategisnya.
Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy, Jorge León, menyatakan bobot geopolitik Iran berakar pada lokasi strategisnya, pengaruh terhadap dinamika keamanan regional, serta kemampuannya mengganggu infrastruktur energi dan jalur transit yang penting.

