BERITA TERKINI
Analis: Kepastian Tarif Resiprokal AS 19% Dorong Sentimen Positif di Pasar Saham

Analis: Kepastian Tarif Resiprokal AS 19% Dorong Sentimen Positif di Pasar Saham

Finalisasi perjanjian dagang Indonesia dan Amerika Serikat (AS) yang menetapkan tarif resiprokal sebesar 19% dinilai membawa sentimen positif bagi pasar saham domestik. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kepastian kebijakan menjadi faktor yang paling dibutuhkan investor saat ini.

“Di sini yang terpenting adalah kepastian,” kata Nafan, Minggu (22/2/2026).

Menurut dia, pasar keuangan pada dasarnya lebih sensitif terhadap ketidakpastian dibandingkan kebijakan itu sendiri. Selama besaran tarif sudah jelas dan tidak berubah-ubah, pelaku pasar dapat menghitung risiko secara lebih terukur.

“Karena dengan adanya kepastian ini biasanya menurut saya ini bukan merupakan sentimen negatif. Investor kan menghendaki adanya kepastian, yang paling penting itu,” ujarnya.

Nafan menambahkan, ketidakjelasan kebijakan justru berpotensi memicu tekanan lebih dalam terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). “Kecuali jika tidak ada kepastian, akan memberikan dampak atau uncertainty akan memberikan sentimen negatif bagi market kita, atau IHSG misalnya,” ungkapnya.

Risiko dinilai sudah tercermin

Nafan menjelaskan, sebagian risiko sebenarnya telah tercermin dalam pergerakan pasar sebelumnya. Tren penurunan ekspor Indonesia ke AS, penyempitan surplus neraca perdagangan, hingga depresiasi rupiah terhadap dolar AS disebut sudah menjadi sinyal awal tekanan eksternal.

Dengan demikian, penetapan tarif 19% dinilai bukan kejutan besar bagi pelaku pasar. Dalam banyak kasus, pasar saham cenderung melakukan pricing in terhadap potensi risiko sebelum kebijakan benar-benar difinalisasi.

“Jadi, kalau dengan adanya kepastian, dengan angka yang pasti di tarif 19%, tentunya ada mitigasi resikonya, hemat saya demikian. Seperti itu,” ujarnya.

IHSG dinilai berpeluang stabil

Meski volume ekspor Indonesia ke AS berpotensi menurun akibat kebijakan tarif tersebut, Nafan melihat stabilitas pasar tetap dapat terjaga karena pelaku pasar kini memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai arah kebijakan perdagangan kedua negara.

Dia menilai, dampak negatif terhadap IHSG lebih mungkin terjadi jika ketidakpastian berlarut-larut. Dengan adanya angka tarif yang pasti, investor dapat menyesuaikan strategi investasi secara lebih rasional.

“Kita juga masih memiliki tingkat likuiditas yang memadai sebagai bantalan dalam menghadapi mitigasi tekad dengan salah satu global sentiment, yaitu US Reciprocal Tariff. Ini cuma hemat saya. Apalagi domestic consumption kita juga kuat,” pungkasnya.

Perjanjian dagang mengatur 1.819 pos tarif

Sebelumnya, Indonesia resmi menyepakati perjanjian perdagangan dengan AS yang menetapkan tarif resiprokal 19%. Kesepakatan tersebut mengatur 1.819 pos tarif.

Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump, setelah agenda perdana pertemuan Dewan Perdamaian untuk Gaza atau Board of Peace (BoP).

“Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk memperkuat kerjasama ekonomi,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers daring, Jumat (20/2/2026).

Airlangga menyampaikan negosiasi dimulai sejak April 2025, ketika Donald Trump mengumumkan Indonesia dikenakan tarif resiprokal 32%. Proses perundingan kemudian berujung pada penurunan tarif menjadi 19% dengan sejumlah ketentuan tambahan.

“90 persen daripada dokumentasi yang dikirim oleh Indonesia dipenuhi oleh Amerika. Jadi usulan Indonesia dipenuhi oleh Amerika yang tertuang dalam Agreement on Reciprocal Tariff,” ucapnya.

Airlangga menambahkan ART mencakup 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik pertanian maupun industri, dan sebagian komoditas mendapatkan pembebasan tarif.

Sejumlah komoditas bebas tarif, tekstil-garmen pakai kuota

Dalam ART, sejumlah komoditas pertanian dan produk manufaktur Indonesia disebut tidak dikenakan tarif bea masuk ke AS. Airlangga menyebut komoditas yang mendapat tarif 0% antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta komponen pesawat terbang.

“Minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, yang tarifnya adalah 0 persen,” ujar Airlangga.

Selain itu, produk tekstil dan garmen Indonesia juga mendapatkan tarif 0% dengan mekanisme tariff rate quota (TRQ) atau kuota tertentu.

“Khusus untuk produk tekstil dan aparel Indonesia, Amerika juga akan memberikan tarif 0 persen dengan mekanisme tarif rate quota atau TRQ,” ujarnya.

Airlangga menyatakan skema tersebut dinilai memberikan manfaat bagi sekitar 4 juta pekerja di sektor tekstil dan garmen, serta berdampak luas jika dihitung bersama keluarga pekerja.