Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh di tengah memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Pemerintah, kata dia, terus memantau dampak ketegangan global terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Airlangga menyampaikan bahwa meski eskalasi konflik di Timur Tengah telah berlangsung lebih dari dua minggu, resiliensi ekonomi Indonesia masih terjaga berkat koordinasi kebijakan yang efektif serta kuatnya permintaan domestik. Menurutnya, transmisi dampak konflik ke Indonesia terutama terlihat pada pergerakan harga minyak, gas, dan komoditas lain. Namun, secara makro, ia menilai kondisi ekonomi nasional tetap kuat dan solid.
Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga dalam acara Diskusi dan Buka Puasa Bersama Forum Komunikasi Wartawan Ekonomi Makro (Forkem) di Jakarta, Senin (16/3/2026).
Optimisme pemerintah, lanjut Airlangga, didukung sejumlah indikator makro. Konsumsi rumah tangga berkontribusi 54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan Mandiri Spending Index tercatat di level 360,7 pada Februari 2026 yang menunjukkan aktivitas belanja tetap terjaga.
Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia mencapai USD 151,9 miliar, yang dinilai lebih dari cukup untuk membiayai impor sekitar enam bulan. Sektor manufaktur juga disebut masih menunjukkan ekspansi, tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang berada di level 53,8.
Di sektor pangan, produksi beras nasional dilaporkan meningkat 13,54% secara tahunan (year-on-year), yang dipandang memperkuat ketahanan pangan domestik.
Airlangga juga menyoroti adanya mekanisme lindung nilai alami (natural hedging) yang membantu meredam dampak fluktuasi harga energi global. Kenaikan harga komoditas ekspor utama seperti batu bara, nikel, dan tembaga—dengan total nilai mencapai USD 47 miliar—disebut dapat menyeimbangkan defisit di sektor minyak dan gas, sehingga menjadi bantalan bagi stabilitas neraca perdagangan di tengah gejolak pasar internasional.