BERITA TERKINI
Adam Back: Minimnya Likuiditas Ritel dan Peran Institusi Ubah Dinamika Harga Bitcoin

Adam Back: Minimnya Likuiditas Ritel dan Peran Institusi Ubah Dinamika Harga Bitcoin

CEO Blockstream Adam Back menilai pasar bitcoin saat ini kekurangan dukungan di sisi bawah (downside support) karena investor ritel telah “berinvestasi penuh” dan tidak memiliki likuiditas tersisa untuk membeli saat harga turun. Ia mengatakan kondisi tersebut membantu menjelaskan penurunan harga bitcoin sekitar 25% sejak awal tahun.

Menurut Back, pelemahan bitcoin saat fase aksi jual sangat dipengaruhi pola kepemilikan investor ritel. Ia menyebut banyak investor ritel bitcoin cenderung menempatkan seluruh dana mereka di kripto, sehingga tidak memiliki fleksibilitas untuk menambah posisi ketika harga terkoreksi.

“Bitcoin cenderung sedikit lebih lemah saat terjadi penurunan karena banyak investor ritel akhirnya berinvestasi penuh,” ujar Back kepada CNBC. “Mereka tidak memiliki banyak modal tersisa untuk membeli bitcoin.”

Back membandingkan situasi ini dengan pasar saham, ketika reksa dana atau investor institusional bisa menjual satu aset untuk membeli aset lain yang dinilai lebih menarik secara valuasi. Dalam contoh yang ia sampaikan, investor dapat menjual saham Microsoft untuk membeli Tesla jika menilai valuasi Tesla lebih menarik.

Berbeda dengan itu, investor ritel bitcoin disebut tidak memiliki aset lain yang dapat dijual untuk menyediakan dana segar, karena portofolio mereka terfokus pada kripto. Akibatnya, ketika harga bitcoin turun, pemegang yang ada tidak memiliki “amunisi” likuid untuk melakukan pembelian tambahan, sehingga tidak terbentuk basis pembeli alami dari kelompok pemegang saat ini untuk menahan penurunan harga.

Meski demikian, Back menilai masuknya investor institusional mulai mengubah dinamika pasar. Ia mengatakan investor institusional memiliki kemampuan untuk mengalihkan dana antar kelas aset—misalnya menjual obligasi atau saham—untuk membeli bitcoin ketika harganya dinilai murah.

Namun, ia mengingatkan konsekuensinya: dalam jangka pendek, pergerakan bitcoin berpotensi semakin sejalan dengan sentimen risiko pasar global.

Back juga membela perusahaan-perusahaan perbendaharaan bitcoin dari anggapan bahwa mereka memperburuk tekanan harga. Menurutnya, perusahaan-perusahaan tersebut justru mendukung harga melalui strategi beli dan tahan (buy and hold) serta akumulasi berkelanjutan—pendekatan yang dipelopori oleh MicroStrategy beberapa tahun lalu.

“Mereka pada umumnya mendukung harga bitcoin karena sebagian besar mencoba menahan, membeli, dan mengakumulasi,” kata Back. “Mereka secara efektif menarik bitcoin dari pasar. Bahkan saat ini mereka masih membeli bitcoin.”

Ia menambahkan perusahaannya, Bitcoin Standard Treasury, menargetkan persetujuan SPAC sekitar April. Back menilai harga bitcoin yang lebih rendah dapat menjadi titik masuk yang lebih murah untuk akumulasi, dengan ambisi menjadikan perusahaannya sebagai pemain terbesar ketiga secara global di antara perusahaan perbendaharaan bitcoin.

Di sisi lain, Charles d’Haussy, CEO dYdX—platform derivatif kripto—menyatakan investor institusional kini menjadi kekuatan utama di pasar derivatif kripto, menggantikan dominasi trader ritel yang sebelumnya mengandalkan leverage untuk spekulasi jangka pendek. Dalam wawancara terbaru, d’Haussy mengatakan bahwa sejak 2025 lembaga besar mulai terlibat secara signifikan dalam perdagangan kontrak berjangka dan instrumen derivatif lainnya, baik di bursa terdesentralisasi maupun terpusat, terutama untuk kebutuhan lindung nilai dan pengelolaan risiko portofolio.

“It all started with retail. Now institutions are really a major part of the crypto derivative markets overall,” ujar d’Haussy.

Sementara itu, analisis Cointelegraph yang ditulis Marcel Pechman menyebut pasar futures dan options bitcoin menampilkan sinyal kehati-hatian meski harga sempat mencoba mendekati level US$70.000. Laporan tersebut menyatakan tekanan harga tidak hanya dipengaruhi aksi jual ritel, tetapi juga mencerminkan sentimen lebih luas di pasar derivatif, termasuk posisi lindung nilai para pemain besar serta arus keluar dari ETF dan kontrak derivatif yang menekan momentum harga.

Laporan itu menyimpulkan bahwa rendahnya premi di pasar derivatif dan sikap risk-off pelaku pasar mencerminkan kekhawatiran yang lebih mendalam di pasar berjangka. Temuan tersebut menegaskan dinamika harga bitcoin saat ini tidak semata digerakkan oleh arus ritel, melainkan juga oleh keputusan institusional di arena derivatif.