Saham-saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat atau Rabu WIB. Pelaku pasar mencermati lonjakan harga minyak dunia, data ekonomi AS yang beragam, serta perkembangan geopolitik yang masih berlangsung.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,18% ke level 46.124,06. Indeks S&P 500 melemah 0,37% menjadi 6.556,37, sementara Nasdaq Composite turun lebih dalam 0,84% ke 21.761,9.
Meski indeks utama berakhir di zona merah, pergerakan sektoral di S&P 500 menunjukkan variasi. Tujuh dari 11 sektor ditutup menguat, dipimpin sektor energi yang naik 2,05% dan material yang menguat 1,67%. Adapun penurunan terbesar terjadi pada sektor jasa komunikasi yang merosot 2,5% dan sektor real estat yang turun 0,76%.
Di pasar komoditas, harga minyak kembali melanjutkan kenaikan setelah sempat jatuh pada sesi sebelumnya. Pembalikan ini terjadi di tengah berlanjutnya serangan AS-Israel terhadap Iran, yang meredam optimisme pasar bahwa konflik berpotensi mereda.
Minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Mei melonjak 4,55% menjadi USD104,49 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka AS untuk pengiriman Mei naik 4,79% menjadi USD92,35 per barel.
Di tengah situasi geopolitik yang dinamis, CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon menilai konflik yang berlangsung di Timur Tengah membawa risiko signifikan bagi perekonomian global dalam jangka pendek. Ia menyebut ketidakpastian hasil konflik menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko tersebut.
Dari sisi ekonomi, data awal menunjukkan arah yang berbeda pada aktivitas bisnis AS. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur S&P Global naik menjadi 52,4 pada Maret dari 51,6 pada Februari, lebih tinggi dari perkiraan pasar 51,3. Sebaliknya, PMI Jasa turun menjadi 51,1 pada Maret dari 51,7 pada bulan sebelumnya, sedikit di bawah konsensus pasar.
Di sektor teknologi, pergerakan saham kelompok raksasa teknologi “Magnificent Seven” bervariasi setelah reli pada Senin yang mengakhiri penurunan tiga sesi beruntun. Saham Tesla tercatat menguat setelah perusahaan melaporkan peningkatan penjualan bulanan pertamanya di Eropa dalam lebih dari setahun.
Di sisi korporasi lainnya, analis Bank of America melanjutkan liputan terhadap Oracle dengan rekomendasi “beli” dan target harga USD200, dengan menilai ekspektasi pasar yang lebih rendah serta permintaan terkait kemampuan kecerdasan buatan sebagai latar yang mendukung. Namun, saham Oracle justru turun 4,7% pada perdagangan Selasa.