Pasar saham Asia-Pasifik melemah pada Senin (23/3/2026), dengan indeks utama di Jepang dan Korea Selatan turun lebih dari 5% seiring konflik di Timur Tengah memasuki pekan keempat.
Penurunan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu menyatakan akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz—jalur penting bagi aliran energi global—dalam waktu 48 jam.
Iran merespons keras ultimatum tersebut. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan serangan terhadap pembangkit listrik negaranya akan “segera” dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi dan minyak di kawasan.
“Infrastruktur penting serta fasilitas energi dan minyak di seluruh kawasan akan dianggap sebagai target sah dan dihancurkan secara permanen, dan harga minyak akan naik dalam waktu lama,” ujar Ghalibaf melalui platform X.
Pada Minggu (22/3), Ghalibaf juga memperluas peringatannya kepada pemegang obligasi pemerintah AS (U.S. Treasurys). Ia menyebut entitas keuangan yang membeli obligasi tersebut dan “membiayai anggaran militer AS” akan dianggap sebagai target sah, bersama dengan pangkalan militer.
Di tengah meningkatnya ketegangan, harga minyak mentah relatif stabil pada awal perdagangan. Brent turun 0,25% menjadi USD111,97 per barel pada pukul 19.16 EST, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,6% ke USD97,64 per barel. Selisih harga Brent dan WTI melebar lebih dari USD14 per barel, menjadi yang terbesar antara acuan minyak AS dan internasional dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala strategi pasar di Strategas Research, Chris Verrone, menilai pelebaran kesenjangan harga tersebut dapat menandakan “puncak intensitas krisis minyak.” Ia menambahkan, tingginya harga Brent berpotensi membuat pelaku pasar memperkirakan konflik berlangsung lebih lama.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun hampir 5% dan memperlebar kerugian dari sesi sebelumnya, sementara Topix melemah 4,4%. Di Korea Selatan, indeks Kospi anjlok lebih dari 6% dan Kosdaq turun hampir 5%. Bursa Korea sempat menghentikan perdagangan setelah indeks berjangka Kospi 200 jatuh lebih dari 5%.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 2,4%.