Uang kerap menjadi salah satu sumber konflik terbesar dalam hubungan. Perbedaan cara mengatur pengeluaran, kebiasaan menabung, hingga prioritas finansial jangka panjang dapat memicu pertengkaran, terutama jika tidak dibicarakan secara terbuka.
Psikolog klinis Dr. Barbara Greenberg menilai, akar pertengkaran soal uang sering kali bukan semata pada jumlahnya, melainkan perbedaan nilai dan keyakinan tentang bagaimana uang seharusnya digunakan. Dalam analisisnya di Psychology Today, ia menyebut pasangan bisa berselisih karena cara pandang yang berbeda terhadap tabungan, utang, maupun prioritas pengeluaran.
Perbedaan ini, misalnya, dapat dipengaruhi oleh latar belakang ekonomi keluarga. Seseorang yang tumbuh dalam kondisi ekonomi sulit cenderung lebih berhati-hati dan memprioritaskan tabungan. Sebaliknya, mereka yang terbiasa hidup berkecukupan bisa lebih santai dalam membelanjakan uang, termasuk untuk kebutuhan atau hiburan. Ketika latar belakang tersebut tidak dipahami, konflik lebih mudah muncul.
Selain perbedaan nilai, kurangnya komunikasi juga kerap memperbesar masalah. Banyak pasangan merasa tidak nyaman membicarakan uang karena dianggap sensitif dan berpotensi memicu ketegangan. Namun, menghindari pembicaraan justru dapat membuat persoalan semakin rumit.
Heather McGovern, General Manager Digital & Marketing di MyState Bank Australia, menekankan pentingnya diskusi keuangan yang jujur dan terbuka. Dalam laporan MyState Bank tentang keuangan pasangan, ia menyatakan bahwa banyak pasangan mengalami pertengkaran serupa, dan salah satu kuncinya adalah membicarakan kondisi finansial secara apa adanya. McGovern menyarankan pasangan duduk bersama untuk membahas pengeluaran, tabungan, serta rencana finansial ke depan agar kesalahpahaman dapat ditekan.
Konflik uang juga sering berkaitan dengan emosi. Uang tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi juga terkait rasa aman, kontrol, dan harapan tentang masa depan. Profesor Kristy Archuleta, pakar perencanaan keuangan keluarga dari Kansas State University, menjelaskan bahwa pertengkaran bisa muncul ketika dinamika hubungan tidak seimbang. Dalam wawancara dengan CBS News, Archuleta menyebut konflik dapat terjadi saat satu pihak merasa harus mengontrol keuangan, sementara pihak lain merasa seperti “anak” yang diawasi. Dinamika ini dapat memunculkan ketegangan berulang.
Untuk mengurangi risiko konflik, salah satu langkah yang disarankan adalah menjadwalkan diskusi keuangan secara rutin, misalnya mingguan atau bulanan. Dengan jadwal khusus, pembicaraan tentang uang dapat dilakukan dalam suasana lebih tenang, bukan saat emosi sedang memuncak, sehingga diskusi lebih produktif.
Pasangan juga dapat menyepakati tujuan finansial bersama. Tanpa tujuan yang jelas, prioritas penggunaan uang bisa berjalan sendiri-sendiri—misalnya satu pihak ingin fokus menabung, sementara yang lain lebih ingin menikmati penghasilan untuk gaya hidup. Tujuan bersama dapat membantu menyelaraskan langkah, seperti membangun dana darurat, membeli rumah, menyiapkan dana pendidikan anak, atau merencanakan masa pensiun.
Memahami latar belakang finansial pasangan juga dinilai penting. Cara seseorang mengelola uang sering dipengaruhi pengalaman masa lalu, termasuk kebiasaan yang terbentuk dari keluarga. Membicarakan pengalaman tersebut dapat membantu pasangan memahami alasan di balik kebiasaan finansial masing-masing, sehingga konflik dapat dihadapi dengan lebih empati dan dipandang sebagai tantangan bersama.
Dari sisi teknis pengelolaan, beberapa pasangan memilih sistem yang lebih fleksibel, salah satunya model “yours, mine, and ours”. Dalam model ini, keuangan dibagi menjadi uang bersama untuk kebutuhan rumah tangga (seperti tagihan, makanan, cicilan), uang pribadi masing-masing yang dapat digunakan secara bebas, serta tabungan bersama untuk tujuan jangka panjang. Pembagian ini dapat membantu mengurangi konflik karena setiap pihak tetap memiliki ruang untuk mengatur sebagian uangnya.
Selain itu, cara pandang terhadap konflik juga berpengaruh. Alih-alih memposisikan masalah sebagai pertarungan antara “saya” dan “pasangan saya”, pasangan dapat melihatnya sebagai tantangan yang perlu diselesaikan bersama. Perspektif ini membantu menekan kebiasaan saling menyalahkan yang sering memperburuk pertengkaran.
Pertengkaran soal uang tergolong umum dalam hubungan dan tidak selalu menandakan relasi bermasalah. Dengan komunikasi terbuka, pembagian tanggung jawab yang lebih setara, serta tujuan finansial yang disepakati bersama, konflik keuangan dapat dikelola dengan lebih baik dan tidak menjadi sumber perpecahan.

