Kelompok Keahlian Risiko Bisnis dan Keuangan (KK BRF) Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) berkolaborasi dengan sejumlah universitas menggelar program literasi keuangan dalam rangkaian IMPACTA 2026. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Al-Basith, Sukapura, Kota Bandung, sebagai bagian dari komitmen pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan keterampilan finansial warga.
Program yang dikoordinasikan oleh Dr. Eneng Nur Hasanah tersebut dirancang menjangkau berbagai kelompok usia. SBM ITB menilai literasi keuangan penting tidak hanya bagi orang dewasa, tetapi juga perlu ditanamkan sejak dini kepada generasi muda. Karena itu, kegiatan dibagi menjadi dua sesi, yakni sesi dewasa pada pukul 10.00–12.00 WIB dan sesi anak-anak pada pukul 16.00–17.00 WIB, dengan narasumber berbeda.
Pada sesi pertama, Dr. Dzikri Firmasyah Hakam, Ph.D., dosen SBM ITB, menyampaikan materi bertajuk “Menuju Kemandirian Ekonomi yang Islami.” Ia menekankan bahwa belajar mengelola keuangan dapat dimulai kapan saja. “Tidak ada kata terlambat untuk siapa pun ketika mulai belajar literasi keuangan,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Dzikri menyoroti pentingnya membiasakan diri mencatat dan menghitung sebagai langkah awal membangun keterampilan pengelolaan keuangan. Materi yang disampaikan mencakup prinsip dasar perencanaan keuangan, pengenalan sumber pendapatan halal sesuai kaidah Islam, pengelolaan pengeluaran secara bijak, pengenalan instrumen investasi, serta model penyusunan anggaran yang aplikatif.
Mayoritas peserta sesi dewasa terdiri dari ibu rumah tangga, pengajar, dan pedagang. Untuk itu, materi dilengkapi studi kasus yang dekat dengan keseharian peserta agar lebih kontekstual dan mudah diterapkan. Dzikri juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka dalam keluarga terkait keuangan. “Jangan jadikan penghitungan uang sebagai hal yang sensitif atau tabu. Komunikasi terbuka adalah prinsip penting dalam perencanaan keuangan,” tegasnya.
Memasuki sesi kedua, Atika Irawan, S.Mn., M.Sc., dosen SBM ITB sekaligus anggota KK BRF, membawakan materi bertajuk “Muslim Cerdas Mengatur Uang.” Peserta sesi ini merupakan santri DTA (Diniyah Takmiliyah Awaliyah) kelas tinggi dan santri TQA (Ta’limul Qur’an lil Aulad) Masjid Al-Basith dengan rentang usia 10–15 tahun.
Sejak sebelum sesi dimulai, suasana disebut antusias. Setiap peserta menerima celengan sebagai stimulasi awal untuk menumbuhkan kebiasaan menabung. Anak-anak juga dikenalkan pada berbagai nominal uang beserta visualisasinya untuk membantu pemahaman dasar mengenai nilai uang.
Dalam sesi interaktif, peserta diminta menggambar tiga barang yang ingin dibeli jika memiliki uang sendiri. Dari aktivitas tersebut, pemateri melihat pilihan anak-anak masih didominasi keinginan dibanding kebutuhan. Temuan itu kemudian menjadi pintu masuk untuk menjelaskan perbedaan kebutuhan dan keinginan melalui studi kasus sederhana, termasuk latihan menentukan prioritas pengeluaran secara bijak.
Materi turut diperkuat dengan pemutaran video animasi tentang prinsip ekonomi syariah, khususnya etika meminjam uang yang dijelaskan secara sederhana dan merujuk pada nilai-nilai dalam Al-Qur’an. “Semua rezeki berasal dari Allah, sehingga harus dikelola dengan penuh tanggung jawab,” kata Atika.
Melalui pembagian dua sesi berdasarkan kelompok usia, program ini diharapkan dapat meningkatkan literasi dan keterampilan finansial masyarakat Sukapura secara menyeluruh. Inisiatif tersebut juga disebut sebagai kontribusi SBM ITB untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui edukasi yang inklusif dan berkelanjutan.
KK BRF SBM ITB menyampaikan apresiasi kepada DKM Masjid Al-Basith serta seluruh peserta yang hadir dan aktif berpartisipasi. Tim pelaksana menilai kegiatan ini sebagai langkah kecil yang diharapkan memberi dampak jangka panjang. “Literasi keuangan bukan hanya tentang mengelola uang, tetapi tentang membangun masa depan yang lebih terencana dan bermartabat,” ujar perwakilan tim KK BRF SBM ITB.