Uni Emirat Arab (UEA) mengeluarkan pernyataan cepat setelah laporan serangan rudal yang melintas di atas wilayahnya. Pemerintah menyatakan sistem pertahanan udara telah mengatasi rudal-rudal tersebut, seraya menegaskan keselamatan warga negara, penduduk, dan pengunjung sebagai prioritas utama.
Dalam pernyataannya, UEA juga menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara, teritorial, atau perairannya digunakan untuk tindakan militer yang bermusuhan terhadap Iran, serta tidak akan memberikan dukungan logistik apa pun.
Merespons perkembangan ini, sejumlah negara—termasuk Amerika Serikat—segera mengeluarkan peringatan bagi warga negara mereka yang berada di Timur Tengah. Inggris, misalnya, meminta warganya di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan UEA untuk segera berlindung di tempat aman menyusul adanya laporan serangan rudal.
Insiden tersebut dinilai berpotensi mengganggu citra UEA yang selama ini dibangun sebagai tempat berlindung dari gejolak kawasan. Hal ini berisiko memengaruhi kebangkitan Dubai sebagai magnet bagi dana lindung nilai, serta posisi Abu Dhabi yang kian menonjol melalui kekuatan dana kekayaan negara.
Sejalan dengan UEA, Arab Saudi dan Qatar juga menarik perusahaan keuangan sebagai bagian dari upaya diversifikasi ekonomi di luar minyak. Bahkan ketika konflik meningkat pada musim panas lalu, arus kedatangan profesional keuangan ke kawasan tetap terjadi. Saat itu, kekhawatiran sempat naik ketika Iran menyerang pangkalan Amerika Serikat di Qatar. Serangan tersebut dipandang terencana, dan perusahaan keuangan disebut bergerak cepat karena dampak yang lebih luas dinilai terbatas.
Perkembangan terbaru ini disebut sebagai kali pertama Republik Islam melancarkan serangan terhadap begitu banyak situs Amerika Serikat di kawasan. Pada periode ketegangan sebelumnya, UEA biasanya menghadapi apa yang digambarkan sebagai serangan balasan “terbatas” terhadap AS.
UEA menjadi lokasi Pangkalan Udara Al Dhafra. Sementara itu, Angkatan Udara AS memiliki kehadiran dan aset signifikan di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di luar Riyadh. Qatar menampung pangkalan besar Amerika Serikat di kawasan, sedangkan Bahrain menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.
Kenaikan ketegangan terbaru dipandang menjadi ujian bagi upaya negara-negara Teluk—khususnya UEA—yang menempatkan diri sebagai tempat perlindungan saat krisis. UEA sebelumnya menarik modal selama Musim Semi Arab, membuka diri dengan cepat pada masa pandemi, serta menarik uang Rusia setelah invasi Moskow ke Ukraina.
Dalam beberapa tahun terakhir, negara itu juga menarik miliarder internasional yang ingin melindungi kekayaan, serta bank-bank Wall Street dan hedge fund yang berekspansi. Abu Dhabi disebut aktif melakukan transaksi melalui dana kekayaan kedaulatan yang hampir mencapai US$2 triliun, sementara harga properti di Dubai dilaporkan melonjak 70% dalam empat tahun, didorong pembeli dari berbagai negara.
Setelah serangan tersebut, Abu Dhabi menyerukan pengekangan diri serta kembali pada solusi diplomatik dan dialog serius. Peristiwa itu juga memicu dukungan dari Arab Saudi. Putra Mahkota Mohammed bin Salman menghubungi Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed pada hari Sabtu untuk menyatakan kesiapan kerajaan memberikan dukungan yang memungkinkan.
Dukungan itu muncul setelah periode meningkatnya ketegangan antara dua ekonomi terbesar di Teluk, yang disebut memuncak pada Desember ketika jet tempur Saudi menyerang kargo senjata yang dikirim ke Yaman dari UEA.

