Perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI yang dijadwalkan bulan depan. Peninjauan tersebut diyakini akan memangkas bobot saham-saham Indonesia di indeks MSCI.
Meski demikian, Indonesia dinilai masih akan bertahan dalam kategori Emerging Market (EM) dan terhindar dari penurunan status menjadi Frontier Market. Hal ini didukung oleh perbaikan transparansi yang disebut sebagai kemajuan nyata dalam reformasi pasar saham domestik.
Bloomberg Intelligence menilai risiko utama dari review MSCI kali ini lebih terkait dengan perubahan bobot, bukan reklasifikasi pasar. Equity Strategist Bloomberg Intelligence, Sufianti, menyebut Indonesia mulai menunjukkan kemajuan yang selama ini diharapkan MSCI, terutama pada aspek transparansi, sehingga isu utama bergeser dari potensi perubahan kategori pasar menjadi lebih terkait dengan bobot di dalam indeks.
Dalam catatan tersebut, otoritas disebut telah merealisasikan empat kebijakan yang sebelumnya menjadi sorotan investor. Kebijakan itu meliputi pengungkapan pemegang saham di atas 1%, pengumuman konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), penyajian data kepemilikan KSEI yang lebih rinci dalam 39 klasifikasi investor, serta peningkatan batas minimum free-float menjadi 15%.