Ramadan kerap menjadi periode dengan aktivitas ekonomi yang meningkat, seiring tradisi buka puasa bersama, belanja kebutuhan Lebaran, hingga perjalanan mudik. Namun, di balik semarak tersebut, tekanan terhadap kondisi keuangan rumah tangga juga dapat ikut naik, terutama ketika lonjakan pengeluaran tidak diimbangi perencanaan yang matang.
Situasi ini membuat Tunjangan Hari Raya (THR) berisiko habis tanpa perencanaan yang jelas. Akibatnya, sebagian keluarga justru memasuki masa pasca-Lebaran dengan arus kas yang melemah, alih-alih memperkuat kondisi finansial. Padahal, Ramadan dinilai dapat menjadi momentum untuk menata kembali prioritas antara konsumsi, berbagi, dan keberlanjutan keuangan keluarga.
Direktur Perbankan Syariah PT Bank Maybank Indonesia Tbk, Romy H. Buchari, menilai fenomena tersebut mencerminkan perubahan perilaku finansial masyarakat modern, ketika peningkatan konsumsi sering tidak diiringi kesiapan perencanaan keuangan jangka panjang.
“Ramadan memang identik dengan peningkatan aktivitas konsumsi, namun kami melihatnya seharusnya Ramadan juga bisa menjadi momentum untuk melakukan refleksi finansial,” ujar Romy dalam keterangan resmi, Jumat (27/2/2026).
Romy menjelaskan, dalam prinsip syariah, keseimbangan atau wasathiyah menjadi kunci dalam menetapkan prioritas untuk memenuhi kebutuhan, berbagi, sekaligus menjaga keberlanjutan keuangan keluarga. Karena itu, ia mendorong nasabah memanfaatkan Ramadan untuk menata kembali prioritas keuangan, termasuk memperkuat dana darurat, mengelola arus kas, serta merencanakan kebutuhan jangka menengah seperti pendidikan dan investasi halal.
Menurut Romy, edukasi finansial yang kontekstual selama Ramadan juga diperlukan agar masyarakat tidak hanya meningkatkan konsumsi, tetapi turut memperbaiki kualitas perencanaan keuangan. Unit Usaha Syariah Maybank Indonesia, sebagai bagian dari Maybank Islamic Berhad, disebut terus menghadirkan edukasi melalui konten digital maupun advisory langsung.
“Jadi, Ramadan adalah momentum untuk membangun financial resilience, bukan sekadar mendorong peningkatan transaksi,” tegasnya.
Romy menambahkan, kerentanan finansial tidak hanya muncul pada Ramadan. Dalam konteks lebih luas, kelas menengah Indonesia dinilai terlihat semakin mapan secara gaya hidup, namun secara struktural semakin rentan. Persentase keluarga yang memiliki dana darurat disebut terus menurun, menandakan adanya kesenjangan antara peningkatan penghasilan dan kesiapan menghadapi risiko.
Ia menyebut banyak generasi muda dan keluarga kelas menengah berada dalam situasi “cukup secara penghasilan, tetapi rapuh secara perencanaan”. Konsekuensinya, gaya hidup meningkat, tetapi proteksi keluarga, dana darurat, pendidikan anak, hingga perencanaan waris belum menjadi prioritas. Ketika salah satu anggota keluarga mengalami krisis, kondisi tersebut dapat mengguncang stabilitas rumah tangga secara keseluruhan.
Untuk menjawab tantangan itu, Maybank Indonesia menawarkan layanan Shariah Wealth Management (MySWM) yang diklaim mencakup proteksi, dana darurat, investasi halal, hingga perencanaan waris lintas generasi. Romy menyebut pendekatan ini sebagai fase baru perbankan syariah yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan aset, tetapi juga membangun hubungan advisory jangka panjang.
“Ini menjadi fase baru dimana perbankan syariah bukan lagi sekadar mengejar pertumbuhan aset, melainkan membangun hubungan advisory jangka panjang untuk membantu keluarga menciptakan ketahanan finansial yang kokoh dan selaras dengan nilai hidup masing-masing,” jelas Romy.
Maybank Indonesia menilai, di tengah meningkatnya pendapatan generasi muda dan kelas menengah, masih terdapat kesenjangan dalam kesiapan menghadapi risiko. Melalui perencanaan finansial yang holistik dan berbasis nilai, bank tersebut menyatakan berupaya membantu keluarga membangun fondasi keuangan yang lebih kokoh dan berkelanjutan.
“Dengan menghadirkan solusi syariah yang relevan dan terintegrasi bagi keluarga muda serta generasi Muslim affluent, kami berupaya memastikan agar Maybank Indonesia dapat menjadi mitra strategis dalam membangun ketahanan finansial lintas generasi yang seimbang antara pertumbuhan dan nilai,” pungkasnya.

