BERITA TERKINI
Pulau Kharg Jadi Poros Ekspor Minyak Iran, Ketegangan Memicu Kekhawatiran Pasar Energi

Pulau Kharg Jadi Poros Ekspor Minyak Iran, Ketegangan Memicu Kekhawatiran Pasar Energi

Pulau Kharg di Teluk Persia menjadi salah satu titik paling menentukan dalam rantai pasok energi global karena perannya sebagai pusat ekspor minyak Iran. Hampir sembilan dari setiap sepuluh barel minyak mentah Iran disebut disalurkan melalui terminal di pulau tersebut, yang sejak 1960-an berfungsi sebagai pusat pemuatan utama.

Terminal di Pulau Kharg berperan besar dalam pengiriman minyak Iran ke pasar internasional, termasuk ke negara-negara dengan permintaan tinggi seperti China. Posisi strategis dan skala fasilitasnya membuat aktivitas di pulau ini terus menjadi perhatian pelaku pasar energi.

Ketegangan meningkat pada 14 Maret ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan serangan udara ke Pulau Kharg, meski infrastruktur minyaknya tidak menjadi sasaran langsung. Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan mengambil langkah lebih lanjut apabila Iran terus mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Pernyataan dan tindakan tersebut menambah tekanan pada pasar energi global yang dinilai sudah rapuh di tengah konflik yang terus berkembang. Setiap sinyal eskalasi di kawasan kerap memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan, yang dapat berimbas pada pergerakan harga.

Pulau Kharg berjarak sekitar 15 mil dari daratan utama Iran dan memiliki fasilitas penting untuk penyimpanan sekaligus pemuatan minyak. Dari terminal ini, lebih dari 6 juta barel minyak per hari dapat dimuat ke kapal tanker, dengan kapasitas maksimum yang bisa mencapai 10 juta barel jika dibutuhkan. Fasilitas tersebut juga memiliki ruang sandar untuk delapan kapal tanker serta infrastruktur pendukung operasi pemuatan.

Dengan besarnya ketergantungan ekspor minyak Iran pada Pulau Kharg, potensi gangguan di fasilitas ini dinilai dapat berdampak langsung pada harga minyak. Para pedagang dan pemerintah negara-negara pengimpor memantau perkembangan di pulau tersebut, mengingat gangguan operasional berisiko memperburuk krisis energi global dan memicu lonjakan harga yang dapat mengguncang perekonomian dunia.