BERITA TERKINI
Prasasti: Gejolak Konflik AS-Israel dan Iran Bisa Jadi Momentum Investor Masuk ke Aset Keuangan Indonesia

Prasasti: Gejolak Konflik AS-Israel dan Iran Bisa Jadi Momentum Investor Masuk ke Aset Keuangan Indonesia

Jakarta – Eskalasi konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran dinilai menambah tekanan pada kondisi geopolitik global dan memicu volatilitas di pasar keuangan. Namun, Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Piter Abdullah, menilai gejolak semacam ini tidak selalu mendorong investor meninggalkan pasar domestik.

Menurut Piter, sebagian investor justru dapat memandang volatilitas sebagai peluang untuk masuk dan mengoleksi aset keuangan Indonesia. “Gejolak seperti ini tidak otomatis membuat investor keluar. Justru bagi sebagian pihak, ini bisa menjadi timing untuk masuk dan mengoleksi aset-aset keuangan kita,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu, 4 Maret 2026.

Piter juga menyampaikan bahwa ia tidak terlalu mengkhawatirkan tambahan arus keluar modal (capital outflow). Ia menilai, posisi kepemilikan asing di pasar domestik dalam beberapa waktu terakhir sudah mengalami penyesuaian, sehingga ruang untuk outflow lanjutan relatif terbatas. “Untuk aliran capital outflow, saya tidak terlalu khawatir. Dalam beberapa waktu terakhir memang sudah terjadi penyesuaian, sehingga kalaupun masih ada yang keluar, jumlahnya tidak banyak,” katanya.

Terkait daya tahan ekonomi, Piter menegaskan tidak ada negara yang sepenuhnya kebal dari dampak eskalasi geopolitik global. Ukuran resiliensi, menurutnya, terletak pada seberapa jauh suatu negara mampu bertahan menghadapi tekanan tersebut.

Ia memandang dampak terhadap Indonesia cenderung lebih ringan dibanding negara yang ketergantungan ekspornya jauh lebih besar. Struktur ekonomi Indonesia yang lebih bertumpu pada pasar domestik dinilai menjadi bantalan di tengah ketidakpastian global.

Di sisi lain, Piter mengingatkan potensi dampak terhadap aktivitas umroh dan haji apabila ketidakpastian global berlangsung lebih lama dan memengaruhi mobilitas internasional. Aktivitas tersebut, kata dia, memiliki keterkaitan ekonomi yang luas, mulai dari layanan perjalanan, perhotelan, hingga sektor pendukung lainnya. Dalam konteks ini, ia menyinggung adanya pembatalan sejumlah penerbangan menuju maupun dari Jeddah, Arab Saudi.

“Apabila terjadi pembatasan atau penurunan aktivitas dalam periode yang berkepanjangan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor perjalanan, tetapi juga dapat menimbulkan efek rambatan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik,” ungkap Piter.

Dalam situasi ketidakpastian, Piter menekankan pentingnya kesiapan pemerintah menyusun berbagai skenario kebijakan. Meski arah perkembangan global sulit diprediksi, pemerintah dinilai perlu menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga, fiskal, serta kepercayaan pasar.

Secara keseluruhan, Prasasti menilai periode seperti ini menuntut kebijakan yang adaptif, terukur, dan berbasis perhitungan fiskal yang cermat. Piter menutup dengan menekankan perlunya keseimbangan antara menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan kesehatan fiskal agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.