Petai yang selama ini identik dengan lalapan beraroma kuat di Indonesia, kini mulai mendapat perhatian di pasar kuliner internasional. Di luar negeri, bahan pangan tropis ini kian dikenal sebagai exotic tropical ingredient—bahan makanan khas daerah tropis dengan cita rasa unik yang digunakan dalam berbagai hidangan Asia Tenggara.
Selama ini, petai lebih sering dibahas dari sisi manfaat kesehatan berkat kandungan serat, kalium, serta senyawa antioksidan. Namun, meningkatnya minat pasar global terhadap bahan pangan alami dan berbasis tanaman membuat petai juga dipandang sebagai komoditas kuliner dengan karakter rasa yang khas dan tidak mudah ditemukan di banyak negara. Perubahan perspektif ini membuka peluang bagi pelaku usaha kecil untuk menciptakan nilai tambah, terutama jika petai diolah dan dipasarkan dengan strategi yang tepat.
Petai memiliki nama ilmiah Parkia speciosa dan termasuk keluarga legum atau kacang-kacangan. Tanaman ini tumbuh alami di kawasan tropis Asia Tenggara. Di Indonesia, pohon petai dapat dijumpai di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga sebagian Nusa Tenggara. Petai umumnya tumbuh di hutan tropis, kebun campuran masyarakat, serta sistem agroforestry desa. Pohonnya dapat tumbuh lebih dari 20 meter dan menghasilkan polong panjang berisi biji petai yang menjadi bahan pangan khas dalam beragam masakan.
Dari sisi produksi, Indonesia disebut memiliki posisi yang cukup kuat sebagai salah satu penghasil petai di Asia Tenggara. Berdasarkan berbagai laporan statistik hortikultura, produksi petai Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 150.000 hingga 180.000 ton per tahun dalam beberapa tahun terakhir. Produksi tersebut tersebar di berbagai daerah, dengan beberapa sentra yang dikenal antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Lampung, dan Kalimantan Selatan.
Meski produksinya besar, petai masih banyak dipasarkan dalam bentuk segar di pasar tradisional. Pola pemasaran ini membuat nilai tambah yang diterima petani maupun pelaku usaha relatif terbatas karena harga sangat dipengaruhi musim panen dan ketersediaan pasokan. Kondisi tersebut dinilai membuka ruang bagi inovasi pengolahan dan pengemasan agar komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan lebih stabil.
Petai juga memiliki kandungan gizi yang kerap menjadi daya tarik. Sejumlah penelitian menunjukkan petai mengandung protein nabati, serat pangan, vitamin C, vitamin B kompleks, kalium, serta senyawa antioksidan. Kalium diketahui berperan dalam menjaga keseimbangan tekanan darah, sementara serat dapat mendukung kesehatan pencernaan. Dalam tren kuliner global yang semakin tertarik pada bahan pangan alami, karakter nutrisi ini dapat menjadi nilai tambah bagi petai sebagai bahan pangan khas Asia Tenggara.
Perbedaan harga antara pasar domestik dan internasional turut menggambarkan potensi nilai ekonomi petai. Di Indonesia, petai lazim dijual dalam bentuk papan, yakni satu polong berisi sekitar 8 hingga 12 biji, yang kemudian kerap diikat menjadi bundel. Harga di tingkat petani umumnya berada pada kisaran Rp10.000 hingga Rp20.000 per papan, bergantung musim panen dan pasokan. Di pasar kota besar, harganya biasanya meningkat menjadi sekitar Rp20.000 hingga Rp40.000 per papan.
Di pasar internasional, situasinya berbeda. Di sejumlah toko bahan makanan Asia di luar negeri, petai kerap dijual dalam kemasan kecil dengan harga sekitar USD 4 hingga USD 8 per kemasan, atau setara Rp60.000 hingga Rp120.000, bergantung kualitas produk dan biaya distribusi. Harga yang lebih tinggi ini dipengaruhi antara lain oleh biaya logistik ekspor, pasokan yang terbatas di luar Asia Tenggara, serta permintaan dari restoran Asia.
Untuk mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga petai segar, sejumlah produk olahan dinilai realistis dikembangkan oleh UMKM. Beberapa di antaranya adalah petai kupas vakum untuk memperpanjang umur simpan dan meningkatkan kepraktisan, petai beku yang dapat disimpan lebih lama, sambal petai kemasan sebagai produk siap makan, serta bumbu atau pasta masak berbasis petai yang memudahkan konsumen menyiapkan hidangan khas Asia Tenggara tanpa menggunakan petai segar.
Dari sisi pasar ekspor, permintaan petai di luar negeri umumnya berasal dari komunitas Asia Tenggara dan kebutuhan restoran yang ingin mempertahankan cita rasa autentik. Sejumlah negara yang disebut memiliki permintaan terhadap petai antara lain Singapura, Malaysia, Hong Kong, Australia, Inggris, dan Belanda. Di negara-negara tersebut, petai biasanya dipasarkan melalui toko bahan makanan Asia atau distributor bahan restoran. Karena tanaman ini tidak tumbuh di sebagian besar wilayah tersebut, pasokan petai cenderung bergantung pada negara produsen di Asia Tenggara.
Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi yang berpeluang memasok kebutuhan pasar tersebut, terutama bila didukung pengolahan, pengemasan, dan distribusi yang tepat. Dengan pendekatan tersebut, petai berpotensi tidak hanya menjadi pelengkap di meja makan, tetapi juga berkembang sebagai komoditas bernilai tambah yang dapat digarap pelaku UMKM.

