BERITA TERKINI
Perang Timur Tengah Dinilai Berpotensi Tekan Ekonomi dan Pariwisata Bali

Perang Timur Tengah Dinilai Berpotensi Tekan Ekonomi dan Pariwisata Bali

Penulis Gede Pasek Suardika menilai Indonesia berisiko menghadapi tekanan ekonomi, dengan sejumlah indikasi seperti melemahnya nilai rupiah terhadap berbagai mata uang asing, kontraksi di bursa saham, serta keluarnya pemegang saham asing dari pasar modal Indonesia.

Ia juga menyoroti kebijakan ekonomi makro dan mikro yang dinilainya belum banyak mendorong pertumbuhan. Dalam tulisannya, ia mencontohkan pembelian 105 ribu kendaraan dari India yang disebut dapat membuat sedikitnya Rp 24,6 triliun mengalir ke luar negeri untuk koperasi merah putih. Selain itu, ia menyinggung menu MBG selama bulan puasa yang disebut banyak menggunakan roti karena paket dibawa pulang, sehingga berpotensi meningkatkan impor gandum.

Sebelumnya, ia memperkirakan Bali akan mengalami dampak krisis lebih belakangan dibanding wilayah lain, karena pelemahan rupiah membuat biaya berlibur di Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan asing. Namun, menurutnya, situasi tersebut dapat berubah apabila perang di Timur Tengah berlangsung cukup lama.

Dalam skenario perang berkepanjangan, ia menilai Bali justru berpotensi mengalami kontraksi lebih awal. Alasannya, mayoritas penerbangan dari Eropa dan Amerika menuju Indonesia, khususnya Bali, banyak yang melewati kawasan Timur Tengah dengan bandara transit seperti Abu Dhabi, Dubai, dan Doha, selain Istanbul di Turki.

Ia menyebut negara-negara tersebut juga memiliki pangkalan militer Amerika Serikat yang, menurut tulisannya, diserang Iran sebagai serangan balasan. Jika eskalasi berdampak pada penerbangan, maskapai seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad diperkirakan akan kesulitan melayani rute ke Indonesia, terutama Bali. Kondisi ini dinilai dapat mengoreksi jumlah kunjungan wisatawan karena berkurangnya akses penerbangan.

Ia menambahkan, masih ada kemungkinan jalur transit melalui Singapura, China, dan mungkin Uzbekistan untuk penerbangan menuju atau dari Bali maupun Jakarta. Namun, ia menilai kapasitas jalur tersebut relatif kecil untuk menggantikan dominasi rute transit melalui bandara-bandara di Timur Tengah.

Selain dampak pada penerbangan dan pariwisata, ia juga mengingatkan potensi kenaikan harga minyak apabila Selat Hormuz ditutup oleh Iran. Menurutnya, dinamika geopolitik tersebut perlu dicermati karena dapat berpengaruh pada perekonomian Indonesia, termasuk Bali.

Penulis menutup dengan harapan agar eskalasi tidak berlanjut, seraya menilai bahwa jika perang terus berlangsung, implikasi ekonomi berpotensi ikut mengguncang Indonesia dan Bali.