BERITA TERKINI
Perang Mengubah Ekonomi Global: Jalur Energi, Biaya Dagang, Fiskal Negara, hingga Sistem Pembayaran Bergeser

Perang Mengubah Ekonomi Global: Jalur Energi, Biaya Dagang, Fiskal Negara, hingga Sistem Pembayaran Bergeser

Perang dapat berakhir lewat gencatan senjata, tetapi jejak ekonominya tidak serta-merta hilang. Dalam beberapa pekan konflik, cara minyak bergerak, cara perdagangan diasuransikan, cara pemerintah membiayai diri, hingga cara negara menyelesaikan pembayaran lintas batas telah berubah. Sejumlah perubahan dipicu keadaan darurat, namun banyak di antaranya mempercepat tren yang sudah berkembang—dan kini berpotensi menjadi permanen.

Forum Ekonomi Dunia menggambarkan situasi ini sebagai pergeseran dari “guncangan medan perang” menjadi “guncangan geoekonomi”. Dampaknya terlihat pada premi asuransi yang melonjak, keputusan investasi yang tertunda, rantai pasok yang dialihkan, serta menurunnya kepercayaan atas stabilitas kawasan Teluk. Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar kemungkinan perubahan itu mengeras menjadi struktur baru ekonomi global.

Arsitektur energi dibangun ulang

Salah satu perubahan paling nyata terjadi pada jalur ekspor minyak. Arab Saudi mengoperasikan pipa Timur–Barat pada kapasitas penuh 7 juta barel per hari, mengalihkan minyak dari pantai Teluk menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Uni Emirat Arab (UEA) meningkatkan kapasitas Abu Dhabi Crude Oil Pipeline menuju Fujairah menjadi 1,6 juta barel per hari.

Secara gabungan, jalur “bypass” ini menangani sekitar 5,5 hingga 6 juta barel per hari, dibandingkan sekitar 17 juta barel per hari yang sebelumnya melintas melalui Selat Hormuz. Infrastruktur yang awalnya disiapkan sebagai langkah kontingensi kini berubah menjadi kapasitas ekspor utama. Investasi untuk memperluas operasi terminal Yanbu, mengamankan rute tanker di Laut Merah, serta membangun pola alokasi baru dengan pembeli Asia dipandang sebagai biaya terbenam yang kecil kemungkinannya ditinggalkan meski Hormuz kembali terbuka.

Implikasinya, Arab Saudi telah menunjukkan kemampuan melayani pelanggan tanpa Selat Hormuz—dan hal ini mengubah perhitungan risiko untuk krisis-krisis berikutnya.

Diversifikasi energi Asia dipercepat

Krisis ini juga mendorong respons kebijakan energi di Asia. Sejumlah negara mengambil keputusan yang bersifat jangka panjang: Filipina dan Thailand meningkatkan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, Vietnam menegosiasikan kontrak batu bara untuk menghemat LNG, Indonesia mempercepat pencampuran biodiesel, dan Jepang berkomitmen melepas 80 juta barel dari cadangan minyaknya.

Langkah-langkah tersebut mencerminkan pergeseran investasi yang tidak mudah dibalik hanya dengan gencatan senjata. Negara-negara yang mengalami pembatasan bahan bakar, pembatalan penerbangan, hingga penyesuaian jam kerja cenderung tidak kembali ke bauran energi yang sama. Modal yang mulai bergerak ke energi terbarukan, kapasitas nuklir, dan produksi domestik berpotensi mengurangi ketergantungan impor minyak Asia selama beberapa dekade.

Biaya pengiriman dan asuransi diperkirakan bertahan lebih tinggi

Perubahan lain yang dipandang menetap adalah kenaikan biaya asuransi pengapalan. Sebelum perang, premi asuransi untuk transit Selat Hormuz berada di sekitar 0,125% dari nilai kapal. Selama krisis, premi melonjak hingga melampaui 10%, bahkan sebagian perusahaan asuransi menarik pertanggungan sepenuhnya.

Pasca-perang, premi diperkirakan tidak kembali mendekati level pra-konflik. Analis industri memproyeksikan premi akan stabil di kisaran 1% hingga 2% dari nilai kapal. Preseden telah terbentuk: Hormuz terbukti bisa benar-benar ditutup selama berminggu-minggu, bukan sekadar diancam. Penetapan harga ulang ini dapat mengalir ke biaya komoditas yang dikirim melalui kawasan Teluk.

Di sisi operasional, tarif sewa kapal menuju Yanbu dilaporkan mengganda. Rute tanker juga diatur ulang mengelilingi Laut Merah dan Tanjung Harapan, menambah hari pelayaran dan ratusan ribu dolar per perjalanan.

Posisi fiskal pemerintah berubah secara struktural

Respons pemerintah terhadap krisis—mulai dari pelepasan cadangan, perluasan subsidi, hingga komitmen belanja pertahanan multi-tahun—membentuk ulang keuangan publik. Perubahan ini dipandang tidak mudah kembali ke titik semula.

Dari sisi cadangan, Jepang melepas 80 juta barel dari cadangan minyak strategisnya, sementara IEA mengoordinasikan pelepasan 400 juta barel di antara negara anggota. Di Amerika Serikat, cadangan minyak strategis tercatat berada pada 345 juta barel setelah penarikan pada 2022–2023 yang disebut belum pernah diisi ulang. Membangun kembali cadangan pada harga saat ini diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun dan biaya besar.

Dari sisi defisit, Indonesia disebut menuju defisit yang melampaui batas hukum 3%. Thailand dan Vietnam telah menghabiskan dana stabilisasi bahan bakar. Jerman diperkirakan mengambil sikap fiskal yang sangat ekspansif pada 2026, sementara komitmen belanja pertahanan di NATO dan Asia diproyeksikan memengaruhi kalender penerbitan obligasi hingga 2030.

IMF memperingatkan bahwa “semua jalan menuju harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat.” WTO memperkirakan harga energi tinggi dapat memangkas pertumbuhan PDB global 2026 sebesar 0,3 poin persentase. Oxford Economics menurunkan proyeksi pertumbuhan negara-negara GCC sebesar 1,8 poin persentase, dengan asumsi konflik berakhir namun komitmen fiskal tetap berjalan.

Sistem mata uang dan cadangan bergeser

Perang juga mempercepat perubahan dalam cara negara menyelesaikan perdagangan dan menyimpan cadangan. Disebutkan adanya kebijakan “yuan-untuk-Hormuz” Iran yang menciptakan koridor petroyuan operasional pertama. Partisipasi Arab Saudi dalam mBridge serta keputusan untuk tidak memperbarui petrodollar dinilai meresmikan infrastruktur penyelesaian dalam yuan.

Di saat yang sama, bank sentral membeli lebih dari 1.200 ton emas pada 2025—tahun ketiga berturut-turut pembelian di atas 1.000 ton. Porsi dolar dalam cadangan global turun menjadi sekitar 57%, terendah sejak 1994, mencerminkan tren diversifikasi yang diperkuat oleh perang.

Gencatan senjata tidak otomatis membalikkan platform mBridge, perjanjian swap mata uang bilateral, atau emas yang sudah tersimpan di brankas bank sentral. Artinya, jaringan keuangan global bergerak menuju sistem yang lebih terfragmentasi, meski dolar tetap dominan.

Pemulihan diperkirakan tidak merata

Chatham House menilai, bila konflik singkat, dampak terhadap PDB global bersifat moderat namun tidak merata. Amerika Serikat—sebagai produsen minyak terbesar dunia dengan ketergantungan minimal pada Hormuz—diperkirakan menyerap guncangan lebih baik dibanding Eropa atau Asia. Zona euro disebut berisiko menyusut pada kuartal kedua sebelum mendatar.

Oxford Economics memperkirakan sektor minyak negara-negara GCC dapat mencatat pemulihan 18,2% pada 2027, sementara pemulihan pariwisata tertinggal. Iran diperkirakan mengalami kontraksi 9,4% pada 2026. Negara-negara yang mengalami kekurangan bahan bakar paling parah diproyeksikan melakukan diversifikasi paling cepat, yang pada akhirnya dapat mengurangi eksposur terhadap energi Teluk secara permanen.

Harga minyak bisa turun, tetapi tidak kembali seperti semula dalam waktu dekat

Dalam proyeksi yang disampaikan, harga minyak kemungkinan turun dari puncak krisis setelah gencatan senjata, namun kembalinya sepenuhnya ke kisaran US$60–US$70 dinilai tidak mungkin dalam jangka pendek. Faktor yang disebut menopang “lantai” harga lebih tinggi mencakup infrastruktur yang rusak, premi asuransi yang tetap tinggi, serta cadangan strategis yang terkuras.

Kesimpulan

Sejarah menunjukkan guncangan minyak besar kerap memicu respons kebijakan yang bertahan lebih lama daripada krisisnya. Dalam krisis terbaru ini, pengalihan jalur pipa, kenaikan biaya asuransi dan pengiriman, pelebaran defisit serta belanja pertahanan, hingga percepatan infrastruktur penyelesaian non-dolar dan akumulasi emas menjadi rangkaian perubahan yang dinilai tidak mudah dibalik. Perang bisa berhenti, tetapi ekonomi global yang terbentuk selama krisis berpotensi menetap hingga akhir dekade.