BERITA TERKINI
Sorotan Ekonomi Global 13 April 2026: Ketegangan Selat Hormuz Mengguncang Energi dan Pasar Keuangan

Sorotan Ekonomi Global 13 April 2026: Ketegangan Selat Hormuz Mengguncang Energi dan Pasar Keuangan

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi benang merah yang menonjol dalam perkembangan ekonomi global pada 13 April 2026. Dampaknya merembet dari pasar energi dan jalur pelayaran strategis hingga pergerakan obligasi, ekspektasi suku bunga, serta perubahan perilaku konsumen di berbagai negara.

Di Prancis, kenaikan harga bahan bakar yang tajam terkait konflik di Timur Tengah mendorong meningkatnya minat terhadap bahan bakar nabati E85 (superetanol). Dengan harga sekitar 0,75 euro per liter (sekitar 0,81 dolar AS), E85 dinilai lebih ekonomis meski konsumsi bahan bakarnya disebut 15–20% lebih tinggi dibanding bensin konvensional. Kondisi ini memicu gelombang pemasangan perangkat konversi bahan bakar pada kendaraan.

Sementara itu, situasi di Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis—dilaporkan semakin tidak stabil setelah sinyal Amerika Serikat mengenai potensi tindakan militer. Perusahaan data maritim Windward yang berbasis di London menilai meningkatnya ketidakpastian itu terjadi menyusul gagalnya pembicaraan AS–Iran di Pakistan. Dalam laporannya, Windward menyebut tindakan AS menciptakan “lapisan kontrol kedua” atas Selat Hormuz, sehingga operasi pelayaran dapat terdampak bukan hanya oleh pembatasan dari Iran, tetapi juga oleh potensi tindakan AS.

Gejolak tersebut turut tercermin di pasar keuangan. Pada pagi 13 April, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 1997, tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan Angkatan Laut AS akan memberlakukan blokade penuh terhadap Selat Hormuz. Di pasar Tokyo, imbal hasil JGB 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 2,49%, tertinggi sejak 1997. Imbal hasil JGB 5 tahun juga meningkat 4 basis poin menjadi 1,9%.

Dari sisi konsumen, warga Amerika Serikat dilaporkan makin sering menghadapi biaya tersembunyi dan biaya tambahan yang diterapkan pelaku usaha untuk menutup biaya operasional di tengah inflasi. Beragam contoh biaya yang disebut kian umum antara lain biaya kartu kredit sebesar 3%, biaya tambahan 5% untuk tunjangan karyawan restoran, hingga biaya pengumpulan sampah bulanan 25 dolar AS di kompleks apartemen.

Di Inggris, sentimen dunia usaha melemah. Survei Deloitte menunjukkan kepercayaan perusahaan-perusahaan terkemuka turun ke level terendah sejak pandemi COVID-19. Indeks kepercayaan bersih para Chief Financial Officer (CFO) merosot dari -13% pada akhir 2025 menjadi -57% pada paruh kedua Maret 2026. Konflik di Timur Tengah disebut memicu kekhawatiran atas lonjakan harga energi serta meningkatnya suku bunga bank.

Tekanan juga berpotensi terasa di pasar energi Asia. Harga gas alam cair (LNG) di kawasan ini dinilai berisiko melonjak setelah AS mengumumkan blokade Selat Hormuz, menyusul gagalnya perundingan perdamaian AS–Iran pada akhir pekan sebelumnya. Menurut pengumuman Komando Pusat AS (Centcom), militer AS akan mulai menerapkan blokade terhadap semua lalu lintas maritim ke dan dari pelabuhan Iran mulai pukul 10.00 pada 13 April waktu New York.

Di Eropa, pelaku pasar mata uang menilai tren suku bunga berbalik arah. Ekspektasi menguat bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan cenderung bersikap hawkish, mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dengan prospek pelonggaran yang dinilai kecil bahkan dalam jangka menengah. Penilaian tersebut didorong pandangan bahwa guncangan energi akibat konflik di Timur Tengah berpotensi berlanjut.

Rangkaian perkembangan ini menunjukkan bagaimana ketegangan di kawasan energi dan jalur perdagangan utama dapat cepat menular ke berbagai sektor—dari biaya hidup, kepercayaan bisnis, hingga dinamika pasar keuangan dan kebijakan moneter.