Bursa saham Eropa melemah pada Jumat (13/3/2026) di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai durasi perang di Iran. Konflik tersebut mengganggu pasokan energi global, mendorong kekhawatiran inflasi, dan mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral.
Harga minyak yang telah melonjak sekitar 40% sejak perang pecah bertahan di atas US$100 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022. Kenaikan biaya energi ini dinilai menambah tekanan pada perekonomian global sekaligus memperbesar risiko inflasi.
Pada awal perdagangan, indeks pan-Eropa STOXX 600 turun 0,6%. Dengan pergerakan itu, indeks tersebut berada di jalur penurunan sekitar 6,1% sepanjang Maret sejauh ini, yang disebut sebagai penurunan dua pekan terbesar dalam setahun terakhir.
Sentimen negatif juga menjalar ke Amerika Serikat. Kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,1% setelah indeks utama Wall Street itu ditutup melemah 1,5% pada perdagangan Kamis.
Di pasar mata uang, dolar AS kembali menguat dan menjadi aset safe haven pilihan investor di tengah gejolak. Dolar diperkirakan mencatat kenaikan untuk pekan kedua berturut-turut dan telah naik sekitar 2,5% sejak perang pecah pada akhir Februari.
Ahli strategi ekuitas Bank J. Safra Sarasin, Wolf von Rotberg, menilai perhatian pasar kini tertuju pada lamanya konflik berlangsung. Menurutnya, jika tidak ada kemajuan menuju penyelesaian dan situasi berlarut-larut, harga minyak berpotensi bertahan tinggi lebih lama sehingga dampaknya terhadap ekonomi global dan inflasi bisa semakin besar.
Harga minyak menjadi penggerak utama pergerakan pasar. Kontrak berjangka Brent naik 0,8% menjadi US$100,30 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$95,98 per barel. Sebagai pembanding, harga minyak global masih berada di kisaran US$60 per barel pada awal 2026.
Kenaikan tajam terjadi karena pasar berupaya memperkirakan berapa lama gangguan pasokan energi akibat konflik akan berlangsung. Group Head of Fixed Income Federated Hermes, Mitch Reznick, mengatakan arus berita terkait perang terus membanjiri pasar dan langsung memengaruhi harga minyak serta pasar keuangan global.
Ketegangan meningkat setelah Iran memperluas serangan di kawasan Timur Tengah. Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, juga menegaskan akan mempertahankan penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi konflik berkepanjangan dan harga minyak yang tetap tinggi.
Namun pada Jumat, harga minyak sempat mereda setelah Amerika Serikat memberikan lisensi sementara selama 30 hari bagi negara-negara untuk membeli minyak dan produk petroleum Rusia yang terkena sanksi dan saat ini tertahan di laut.
Lonjakan harga energi turut memicu perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter. Pelaku pasar kini hanya memperkirakan pelonggaran suku bunga sekitar 20 basis poin dari Federal Reserve tahun ini, lebih rendah dibandingkan perkiraan pemangkasan 50 basis poin yang diperkirakan bulan lalu.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, yang biasanya bergerak sejalan dengan ekspektasi suku bunga The Fed, sempat mencapai level tertinggi dalam enam bulan pada Kamis sebelum turun tipis menjadi 3,74% pada Jumat.
Managing Director Investment Strategy OCBC Singapura, Vasu Menon, mengatakan selama risiko harga minyak tinggi masih bertahan, investor perlu bersiap menghadapi volatilitas pasar yang berkelanjutan dan potensi pelemahan lebih lanjut dalam jangka pendek.
Ekonom senior Interactive Brokers, Jose Torres, menambahkan bahwa kenaikan harga minyak menekan margin perusahaan, memengaruhi ekspektasi inflasi, mengubah prospek pemangkasan suku bunga, serta memicu pergerakan imbal hasil obligasi. Menurutnya, kombinasi faktor tersebut meningkatkan volatilitas pasar dan membuat pilihan perlindungan investor semakin terbatas.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada rangkaian pertemuan bank sentral utama pekan depan, termasuk Federal Reserve, Bank of Japan, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of England. Mayoritas bank sentral tersebut diperkirakan mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Sementara itu, Reserve Bank of Australia diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya.
Di pasar valuta asing, yen Jepang sempat melemah ke 159,69 per dolar AS—terendah sejak Juli 2024—sebelum berada di sekitar 159,41. Pemerintah Jepang menyatakan siap mengambil langkah untuk menahan pelemahan mata uangnya.
Euro melemah 0,5% menjadi US$1,14575 dan berada di jalur penurunan mingguan sekitar 1,4%. Indeks dolar AS berada di level 100,1 dan berpotensi naik sekitar 1% sepanjang pekan ini.
Sementara itu, harga emas naik tipis 0,2% menjadi US$5.088,4 per ons pada Jumat, meski secara mingguan masih berada di jalur penurunan sekitar 1%.