Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan dipengaruhi faktor global, dengan perhatian investor dinilai lebih tertuju pada dinamika saham dan obligasi di Asia dibandingkan pasar Amerika Serikat.
Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai pasar Asia terlihat lebih menarik karena pemulihan ekonomi dan pendapatan yang kuat, serta valuasi yang dinilai lebih murah. Ia mengatakan, investor juga mencermati data ekonomi Tiongkok dan perkembangan penanganan Covid-19 di sejumlah negara Asia, seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Hongkong.
Menurut Hans, sentimen pasar turut terbentuk dari kondisi tersebut. Ia menyebut data ekonomi Tiongkok yang baik dan situasi Covid-19 yang lebih terkendali di beberapa negara Asia menjadi pembeda, sementara Indonesia dan Filipina dinilai masih belum dapat menjinakkan pandemi.
Chief Economist for East Asia and Pacific Bank Dunia Aaditya Mattoo menyatakan Indonesia dan Filipina belum sukses menangani pandemi, sehingga tidak akan menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi dalam waktu dekat.
Sebelumnya, Bank Dunia merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi -1,6 persen dari 0,0 persen pada 2020, serta memproyeksikan pertumbuhan 2021 sebesar 4,4 persen dari sebelumnya 4,8 persen. Hans juga menyoroti data yang menunjukkan Indonesia mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut sejak Juli hingga September 2020.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi pada September 2020 sebesar 0,05 persen, sehingga terjadi deflasi selama triwulan III-2020. Pada Juli 2020 deflasi tercatat 0,10 persen dan pada Agustus 0,05 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender berada di angka 0,89 persen dan inflasi tahunan (year on year) sebesar 1,42 persen.
Hans menilai deflasi menjadi tanda melemahnya daya beli masyarakat akibat pandemi. Ia memperkirakan IHSG dalam sepekan cenderung bergerak sideways dalam rentang yang lebar, dengan level support di 4.881 hingga 4.754 serta resistance di 4.991 hingga 5.075.

