Pemerintah Korea Selatan menyatakan tren pemulihan ekonomi terus berlanjut selama lima bulan berturut-turut, meski sejumlah risiko eksternal dinilai dapat menekan stabilitas harga. Salah satu kekhawatiran utama adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global dan memicu inflasi.
Penilaian tersebut disampaikan Kementerian Ekonomi dan Keuangan dalam laporan “Tren Ekonomi Terkini” (Green Book) edisi Maret yang dirilis pada Jumat (20/03). Dalam laporan itu, pemerintah menilai pemulihan ditopang oleh membaiknya permintaan domestik, termasuk konsumsi, serta kinerja ekspor yang kuat, terutama dari sektor semikonduktor.
Ekspor pada Februari tercatat naik 28,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya pengapalan semikonduktor dan kapal.
Sejumlah indikator sentimen juga menunjukkan penguatan. Indeks sentimen konsumen tercatat 112,2, naik 1,3 poin, yang mencerminkan bertambahnya jumlah konsumen yang menilai kondisi ekonomi akan membaik ke depan. Sementara itu, prospek sentimen bisnis meningkat 6,6 poin menjadi 97,6, menggambarkan pandangan pelaku usaha yang lebih positif terhadap kondisi ekonomi.
Dalam aktivitas industri, laporan mencatat investasi fasilitas dan penjualan ritel meningkat. Namun, produksi industri serta investasi konstruksi mengalami penurunan. Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah pekerja pada bulan lalu bertambah 234 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, memperbesar kenaikan tersebut.
Meski demikian, Kementerian Ekonomi dan Keuangan menyoroti ketidakpastian terkait kecepatan pemulihan investasi konstruksi serta dampak kebijakan tarif Amerika Serikat. Pemerintah juga menekankan bahwa peningkatan risiko geopolitik—termasuk potensi lonjakan harga energi akibat krisis di Timur Tengah—dapat mendorong inflasi, menambah beban masyarakat, dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.
Untuk perekonomian global, laporan itu menilai memburuknya situasi di Timur Tengah dan kondisi perdagangan dapat meningkatkan volatilitas pasar keuangan internasional dan harga energi. Dampak lanjutan dari kondisi tersebut dinilai berpotensi memperlambat perdagangan dan pertumbuhan ekonomi.