BERITA TERKINI
Paylater Makin Populer di Jatim Awal 2026, Ini Cara Menghindari Jebakan Utang dan Menjaga Skor SLIK OJK

Paylater Makin Populer di Jatim Awal 2026, Ini Cara Menghindari Jebakan Utang dan Menjaga Skor SLIK OJK

Memasuki kuartal kedua 2026, layanan “beli sekarang, bayar nanti” (paylater) kian melekat dalam aktivitas ekonomi digital milenial dan Gen Z di Jawa Timur. Dari belanja di pusat perbelanjaan Surabaya hingga pemesanan tiket wisata di Batu, kredit instan menawarkan kemudahan yang dapat membantu saat kebutuhan mendesak, namun juga berisiko mendorong perilaku konsumtif bila tidak dikelola dengan disiplin.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penggunaan layanan paylater di Jawa Timur meningkat 22% pada awal 2026 dan didominasi kelompok usia produktif 25–35 tahun. Namun, pertumbuhan tersebut dibayangi peningkatan risiko kredit macet (TWP90) di Surabaya dan Malang yang dikaitkan dengan pola konsumsi yang berlebihan.

Bank Indonesia, melalui Financial Stability Review, turut menyoroti kerentanan keuangan rumah tangga terhadap jeratan utang jangka pendek. Kemudahan akses digital dinilai belum diimbangi kemampuan manajemen risiko pribadi yang memadai, sehingga pengguna rentan terjebak pola “gali lubang tutup lubang”.

Masalah literasi menjadi salah satu faktor utama. Riset yang dimuat dalam Journal of Consumer Affairs mencatat hanya 38% pengguna di Jawa Timur yang memahami mekanisme bunga majemuk. Kondisi ini sejalan dengan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang menunjukkan indeks inklusi kerap melampaui indeks literasi. Ketimpangan tersebut dinilai dapat memunculkan risiko finansial, terutama jika pengguna tidak memahami biaya tersembunyi dan denda keterlambatan.

Tanpa edukasi yang memadai, lonjakan kredit digital berpotensi memicu penurunan skor kredit secara luas. Dampaknya dapat menghambat akses masyarakat terhadap pembiayaan produktif di masa depan, termasuk pengajuan KPR.

Langkah praktis mengelola paylater

Sejumlah strategi disarankan agar paylater tetap menjadi alat bantu, bukan beban. Salah satunya adalah menerapkan aturan “24 jam” sebelum bertransaksi. Praktik ini dikenal sebagai cooling-off period untuk memberi waktu membedakan kebutuhan mendesak dan keinginan impulsif.

Pengguna juga disarankan membatasi pemakaian secara mandiri, meski penyedia layanan memberi limit tinggi. Batas yang kerap dianjurkan adalah maksimal 10%–15% dari pendapatan bulanan, dengan menekankan bahwa paylater pada dasarnya merupakan utang.

Selain itu, penentuan tanggal jatuh tempo perlu disesuaikan dengan tanggal gajian. Memilih jatuh tempo 2–3 hari setelah gajian dinilai membantu memastikan kewajiban terbayar sebelum dana terpakai untuk kebutuhan lain. Pada 2026, sejumlah aplikasi paylater disebut telah menyediakan fitur penyesuaian tanggal tagihan.

Strategi berikutnya adalah menghindari penggunaan paylater untuk konsumsi harian yang bersifat rutin, seperti membeli kopi atau makanan cepat saji. Paylater disarankan digunakan untuk kebutuhan mendesak atau barang yang dinilai produktif dan memiliki nilai jangka panjang.

Dampak tunggakan pada skor kredit dan produktivitas

Kelalaian membayar cicilan paylater dapat berdampak pada skor kredit di SLIK OJK (iDebku). Pada 2026, integrasi data keuangan yang makin ketat membuat tunggakan—termasuk yang kecil—berisiko memengaruhi peluang pengajuan kredit di perbankan, seperti KPR maupun kredit usaha.

OJK juga mengingatkan rekam jejak digital menjadi salah satu acuan utama perbankan dalam menilai kredibilitas calon debitur. Karena itu, keputusan konsumtif jangka pendek dapat berimplikasi pada rencana finansial jangka panjang.

Tekanan finansial turut dikaitkan dengan kinerja kerja. Penelitian dari Cambridge University menyebut stres akibat utang digital dapat menurunkan produktivitas hingga 30%. Di Indonesia, riset Lembaga Psikologi Terapan UI juga menyoroti beban utang aplikasi yang dapat memicu kecemasan kronis pada pekerja muda.

Di tengah situasi tersebut, muncul tren financial minimalism di Surabaya dan Malang yang membatasi penggunaan maksimal dua instrumen kredit. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pendekatan ini efektif untuk mempermudah kontrol arus kas di tengah inflasi gaya hidup, sekaligus membantu individu memantau kewajiban agar terhindar dari catatan negatif di SLIK OJK.

Paylater pada dasarnya dapat bermanfaat bila diiringi literasi dan pengendalian diri. Bagi milenial dan Gen Z di Jawa Timur, disiplin dalam membatasi pemakaian, memahami biaya, serta memastikan pembayaran tepat waktu menjadi kunci agar kemudahan kredit digital tidak berubah menjadi beban utang berkepanjangan.