BERITA TERKINI
Pasar Keuangan Berkelanjutan Diproyeksikan Tembus Rp422.000 Triliun pada 2031

Pasar Keuangan Berkelanjutan Diproyeksikan Tembus Rp422.000 Triliun pada 2031

Pasar keuangan berkelanjutan global diperkirakan terus tumbuh pesat hingga 2031. Laporan Mordor Intelligence tahun 2026 memproyeksikan nilai pasar meningkat dari sekitar Rp210.000 triliun pada 2025 menjadi Rp236.000 triliun pada 2026.

Proyeksi tersebut belum berhenti di situ. Nilai pasar diprediksi terus melonjak hingga mencapai Rp422.000 triliun pada 2031. Dengan angka itu, investasi di sektor ini diperkirakan bertumbuh stabil sebesar 12,34 persen per tahun.

Menurut laporan yang dilansir Know ESG pada Senin (23/2/2026), salah satu pendorong utama pertumbuhan adalah dominasi obligasi hijau (green bonds). Instrumen ini disebut menguasai lebih dari 53 persen pangsa pasar keuangan berkelanjutan pada 2025.

Obligasi hijau menjadi sumber pendanaan penting untuk energi terbarukan, infrastruktur iklim, serta proyek pembangunan rendah karbon, baik di negara maju maupun negara berkembang. Adapun sektor yang paling banyak menarik modal berkelanjutan antara lain utilitas dan energi, transportasi dan logistik, bahan kimia dan material, pangan dan pertanian, proyek sektor publik, serta lembaga keuangan.

Dari sisi kawasan, Eropa disebut masih memegang porsi terbesar dalam modal berkelanjutan. Kerangka aturan yang kuat, kebijakan yang berfokus pada iklim, serta penerbitan obligasi hijau oleh pemerintah negara seperti Jerman dan Italia dinilai memperkuat kepercayaan investor. Inisiatif berskala besar seperti European Green Deal turut mengukuhkan posisi Eropa dalam keuangan yang selaras dengan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG).

Sementara itu, Asia-Pasifik muncul sebagai wilayah dengan pertumbuhan tercepat. Pemerintah di kawasan ini meluncurkan program obligasi hijau negara yang ambisius dan mempercepat digitalisasi data keberlanjutan. Regulator keuangan juga mulai memperkenalkan kerangka kerja baru untuk menyalurkan modal ke energi terbarukan dan infrastruktur yang tahan terhadap perubahan iklim.

Namun, prospek jangka panjang pasar keuangan berkelanjutan disebut tetap bergantung pada sejumlah faktor, termasuk konsistensi kerangka aturan, kondisi suku bunga yang mendukung, dan keberlanjutan dukungan kebijakan. Standar yang jelas serta kondisi makroekonomi yang stabil dipandang penting untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan pertumbuhan pasar secara global.

ESG juga digambarkan kian menjadi bagian utama sistem keuangan. Bank sentral disebut mulai melakukan uji ketahanan iklim, sementara regulator memperketat persyaratan keterbukaan informasi. Standar pelaporan ESG yang bersifat wajib diharapkan menghadirkan data yang lebih andal dan sebanding bagi investor, sehingga dapat mengurangi celah informasi dan memperbaiki keputusan alokasi modal.

Dalam perkembangan ini, lembaga keuangan mulai memasukkan kriteria ESG ke dalam perjanjian pinjaman. Perusahaan pun merespons tekanan pemegang saham dan pemangku kepentingan untuk memenuhi standar keberlanjutan yang lebih tinggi. Dampaknya, pendanaan yang bertanggung jawab disebut semakin menjadi praktik standar di berbagai industri.