BERITA TERKINI
Pasar Global Berbalik Menguat Usai Gencatan Senjata Sementara di Timur Tengah

Pasar Global Berbalik Menguat Usai Gencatan Senjata Sementara di Timur Tengah

Pasar keuangan global berbalik arah tajam setelah tercapai gencatan senjata sementara selama dua minggu di Timur Tengah. Kesepakatan ini memicu peningkatan selera risiko (risk appetite), mendorong reli luas di pasar saham dan obligasi, sekaligus menekan harga minyak dan melemahkan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama.

Pergerakan tersebut kembali menegaskan kuatnya pengaruh faktor geopolitik dalam membentuk arah pasar, bahkan ketika isu lain seperti kebijakan bank sentral dan rilis data ekonomi terbaru masih berlangsung. Gencatan senjata yang muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dinilai meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Selama konflik, Selat Hormuz—jalur penting yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia—dilaporkan mengalami hambatan serius. Kondisi itu sebelumnya memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan risiko inflasi global. Dengan adanya kesepakatan sementara, pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian ke upaya normalisasi kondisi ekonomi, yang langsung tercermin pada pergerakan lintas aset.

Reli serentak di aset berisiko

Pasar saham global menguat tajam seiring meredanya ketegangan geopolitik. Bursa utama di Asia Pasifik naik sekitar 3% hingga 6%. Di Eropa, indeks Stoxx 600 mencatat kenaikan signifikan. Sementara itu, kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat mengindikasikan pembukaan yang kuat, dengan kenaikan sekitar 2,5% hingga 3,5%.

Penguatan ini mencerminkan pola relief rally, ketika pasar merespons positif berkurangnya risiko besar yang sebelumnya membebani sentimen. Dalam konteks ini, potensi gangguan pasokan energi dan lonjakan inflasi menjadi faktor yang dinilai mulai mereda.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) turun tajam karena permintaan terhadap aset pendapatan tetap meningkat. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun di sejumlah negara maju turun sekitar 13 hingga 25 basis poin. Yield US Treasury 10 tahun turun ke kisaran 4,24%, sedangkan obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun turun menjadi sekitar 2,35%.

Penurunan yield tersebut mencerminkan perubahan ekspektasi pasar bahwa tekanan inflasi mungkin tidak setinggi yang sebelumnya dikhawatirkan, terutama jika harga energi stabil atau menurun.

Dolar melemah, mata uang G10 menguat

Di pasar valuta asing, dolar AS tertekan terhadap hampir seluruh mata uang utama G10 maupun sejumlah mata uang negara berkembang. Pelemahan dolar sejalan dengan meningkatnya selera risiko global, yang mendorong investor keluar dari aset safe haven dan beralih ke aset berisiko.

Euro menguat dan menembus level teknikal penting, termasuk rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu bulan. Sentimen terhadap prospek ekonomi kawasan euro ikut membaik, meski data fundamental masih menunjukkan pelemahan.

Pound sterling juga menguat, menembus level resistensi kunci dan mencatat posisi tertinggi dalam beberapa hari terakhir. Dolar Australia melonjak tajam, sejalan dengan karakter mata uang tersebut yang sensitif terhadap sentimen risiko global dan pergerakan komoditas.

Adapun yen Jepang bergerak lebih fluktuatif. Dolar AS sempat menguat terhadap yen sebelum terkoreksi tajam setelah pengumuman gencatan senjata, mencerminkan kombinasi dinamika domestik Jepang dan perubahan sentimen global.

Harga minyak jatuh, emas tetap menguat

Pasar energi mencatat pergerakan paling mencolok. Harga minyak mentah turun tajam setelah sebelumnya melonjak akibat konflik. West Texas Intermediate (WTI) kontrak Mei turun lebih dari 15%, sementara Brent kontrak Juni melemah sekitar 13%.

Penurunan ini mencerminkan ekspektasi bahwa pasokan energi global dapat kembali mengalir, terutama melalui Selat Hormuz. Namun, harga minyak masih berada di atas level sebelum konflik, menandakan risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.

Di sisi lain, logam mulia seperti emas dan perak justru ikut menguat bersamaan dengan reli aset berisiko. Emas sempat mencapai level tertinggi dalam sekitar dua setengah minggu sebelum terkoreksi tipis, sementara perak juga mencatat kenaikan serupa. Penguatan emas di tengah penguatan aset berisiko menunjukkan sebagian investor masih mempertahankan posisi lindung nilai terhadap ketidakpastian yang belum sepenuhnya mereda.

Isu bank sentral tersisihkan

Di tengah dominasi faktor geopolitik, perkembangan bank sentral utama relatif kurang mendapat perhatian. Federal Reserve pada pertemuan bulan lalu mempertahankan kebijakan moneter sesuai ekspektasi. Risalah pertemuan menunjukkan mayoritas anggota masih memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga tahun ini, tetapi pasar menangkap nada yang cenderung hawkish dari Ketua Jerome Powell yang menekankan kehati-hatian dalam merespons tekanan inflasi.

Saat ini, kontrak berjangka Fed funds mengindikasikan The Fed kemungkinan besar mempertahankan suku bunga sepanjang tahun, seiring ketidakpastian terkait arah inflasi dan pertumbuhan. Di negara lain, bank sentral Selandia Baru dan India juga mempertahankan suku bunga, sesuai ekspektasi pasar, mengindikasikan siklus kebijakan moneter global memasuki fase stabilisasi setelah pengetatan agresif.

Data ekonomi memberi sinyal melemah

Meski sentimen pasar membaik, sejumlah data ekonomi terbaru menunjukkan tanda pelemahan. Di kawasan euro, harga produsen mencatat deflasi tahunan terdalam sejak Oktober 2024, sementara penjualan ritel turun beruntun untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir.

Di Jerman, pesanan pabrik naik moderat setelah penurunan tajam sebelumnya, mengindikasikan pemulihan yang masih rapuh. Sektor konstruksi Inggris masih berada dalam zona kontraksi, meski laju penurunannya mulai melambat.

Di Jepang, kenaikan upah belum mendorong konsumsi rumah tangga secara berarti. Data menunjukkan belanja rumah tangga menurun meski pendapatan riil meningkat, menyoroti tantangan struktural dalam mendorong pertumbuhan domestik. Bank of Japan masih mempertimbangkan langkah kebijakan berikutnya, dengan probabilitas kenaikan suku bunga yang menurun dibandingkan pekan sebelumnya.

Optimisme pasar dengan catatan risiko

Meski pasar menyambut positif gencatan senjata, sejumlah analis mengingatkan euforia bisa bersifat sementara. Implementasi kesepakatan di lapangan masih menghadapi tantangan, termasuk pembukaan kembali jalur pelayaran secara penuh dan potensi kebijakan baru terkait biaya transit.

Selain itu, dampak ekonomi konflik dinilai tidak hilang dalam waktu singkat. Gangguan rantai pasok, kenaikan biaya logistik, serta ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi dapat terus membayangi prospek pertumbuhan global. Dalam situasi ini, pasar berada pada fase transisi antara stabilitas jangka pendek dan ketidakpastian jangka panjang—faktor yang akan menentukan arah berikutnya.

Gencatan senjata di Timur Tengah memang memberi dorongan besar terhadap sentimen, memicu reli di berbagai kelas aset. Namun, pertanyaan yang tersisa adalah apakah momentum ini mampu bertahan, atau hanya menjadi jeda sebelum volatilitas kembali meningkat.