Seorang pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyoroti fenomena yang belakangan ramai terlihat di media sosial, yakni munculnya apa yang disebut sebagai “kelas menengah-kaya palsu”. Istilah ini merujuk pada kelompok yang menampilkan gaya hidup tampak mewah atau fantastis di ruang publik digital, namun tidak sejalan dengan kondisi finansial yang kuat.
Dalam pembahasannya, pakar IPB menggambarkan fenomena tersebut sebagai kontras antara penampilan dan ketahanan ekonomi. Di satu sisi, individu atau kelompok ini kerap memperlihatkan citra sebagai kelas menengah ke atas melalui berbagai simbol konsumsi. Namun di sisi lain, mereka disebut memiliki tabungan yang tipis, sehingga daya tahan keuangannya dinilai rentan.
Fenomena “kelas menengah-kaya palsu” ini disebut banyak beredar di media sosial, tempat citra dan persepsi mudah terbentuk melalui unggahan, tren, dan interaksi publik. Pembahasan pakar IPB menekankan bahwa yang terlihat di layar tidak selalu mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya.