Transformasi digital yang semakin masif mendorong literasi keuangan menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda. PT Pintu Kemana Saja (Pintu) memperluas program edukasinya melalui kegiatan Pintu Goes to Campus yang digelar di Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor. Kegiatan ini diikuti lebih dari 200 mahasiswa dan sekaligus menjadi ajang apresiasi bagi delapan mahasiswa berprestasi.
Chief Marketing Officer Pintu, Timothius Martin, menyatakan bahwa tantangan utama industri kripto saat ini bukan lagi pada adopsi, melainkan pada literasi. Ia menyebutkan, secara global sekitar 700 juta orang telah berinvestasi atau melakukan perdagangan aset kripto, setara dengan 1 dari 15 populasi dunia. Di Indonesia, jumlah investor kripto disebut telah melampaui investor saham, dengan total lebih dari 21 juta orang.
Menurut Timothius, kondisi tersebut menegaskan urgensi edukasi yang lebih luas. Pintu, kata dia, menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perguruan tinggi untuk memperluas program literasi ke kampus. “Inisiatif ini bertujuan membekali generasi muda, khususnya mahasiswa, dengan pemahaman yang matang sebelum terjun ke investasi aset kripto,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (13/4/2026).
Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan Kartasasmita menekankan pentingnya literasi keuangan, termasuk pemahaman mengenai kripto dan instrumen investasi lainnya, di tengah semakin kompleksnya produk finansial. Ia mengingatkan bahwa tanpa pemahaman memadai, risiko kesalahan pengelolaan keuangan dapat meningkat di masa depan. Arief menilai program literasi seperti ini krusial untuk menjadi fondasi dalam menyiapkan masa depan finansial mahasiswa.
Dari sisi regulator, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Djoko Kurnijanto menyoroti masih lebarnya kesenjangan antara literasi dan inklusi dalam investasi kripto. OJK mendorong edukasi agar investor tidak sekadar mengikuti tren, dengan menekankan prinsip 2L—Legal dan Logis—yakni memastikan platform yang digunakan berizin serta menghindari iming-iming keuntungan yang tidak masuk akal.
Minat generasi muda terhadap investasi digital turut mendorong pertumbuhan industri kripto. Data OJK mencatat jumlah investor kripto Indonesia mencapai 21,07 juta per Februari 2026. Sementara itu, World Economic Forum menyebut sekitar 42% Gen Z global telah berinvestasi kripto. Tren tersebut memperkuat kebutuhan literasi agar keputusan investasi diambil secara bijak, bukan sekadar mengikuti arus.
Timothius menambahkan, di tengah volatilitas pasar dan derasnya tren kripto, pemahaman menjadi kunci. Pintu menyatakan komitmennya untuk memperluas akses edukasi agar generasi muda tidak hanya menjadi partisipan, tetapi juga investor yang rasional dan siap menghadapi dinamika pasar.