Jakarta — Konsumsi masyarakat kerap meningkat menjelang Hari Raya Idulfitri. Berbagai kebutuhan seperti pakaian baru, kue kering, hingga biaya mudik menjadi pengeluaran yang umum dilakukan untuk menyambut Lebaran.
Pakar Ekonomi Universitas Airlangga, Tika Widiastuti, menilai peningkatan konsumsi menjelang hari besar merupakan hal yang wajar. Namun, ia mengingatkan agar pengeluaran tersebut tidak sampai membebani kondisi keuangan.
Tika menyoroti salah satu kesalahan finansial yang sering terjadi menjelang hari raya, yakni tidak memprioritaskan kebutuhan utama. Dalam praktiknya, masyarakat kerap langsung membelanjakan uang tanpa menyusun urutan prioritas.
Menurutnya, prinsip ekonomi Islam dapat digunakan untuk memilah kebutuhan, yakni dharuriyah (kebutuhan pokok), hajiyah (kebutuhan penunjang), dan tahsiniyah (kebutuhan pelengkap). Ia menilai kesalahan yang sering muncul adalah kecenderungan memenuhi keinginan semata.
“Karena, yang disebut keinginan itu apabila itu dipenuhi sebenarnya biaya yang dikeluarkan itu tidak sebanding dengan benefitnya,” kata Tika.
Untuk menghindari pengeluaran berlebihan, ia menekankan pentingnya perencanaan keuangan sebelum Lebaran. Tika menyarankan masyarakat menyusun daftar kebutuhan wajib, seperti biaya transportasi mudik, biaya makanan saat Lebaran, hingga oleh-oleh untuk keluarga.
Ia juga memberikan batasan penggunaan pemasukan tambahan. “Kalau kalian punya pemasukan tambahan, yang boleh dipakai hanya sekitar 70 persen untuk kebutuhan lebaran. Sementara, sisanya bisa disimpan untuk kebutuhan tidak terduga,” ujarnya.
Selain soal konsumsi, Tika mengingatkan bahwa makna Lebaran juga berkaitan dengan kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama. Ia mengajak masyarakat menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu keluarga atau orang lain yang membutuhkan.
“Rezeki yang kita miliki itu kan bukan hanya untuk diri kita sendiri, sebagiannya adalah titipan yang bisa kita gunakan untuk membantu orang yang lebih membutuhkan,” ucapnya.