Denpasar—Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali melaporkan stabilitas industri jasa keuangan (IJK) di Bali tetap terjaga sepanjang 2025. Kondisi tersebut dinilai menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Bali yang mencapai 5,82 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.
Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu menyatakan intermediasi perbankan yang berjalan optimal dan profil risiko yang terjaga menjadi faktor penting yang memperkuat ketahanan ekonomi Bali di tengah dinamika global. Ia menambahkan, capaian pertumbuhan tersebut menempatkan Bali pada posisi kelima tertinggi secara nasional.
Dari sisi perbankan, pertumbuhan ekonomi Bali didorong penyaluran kredit yang ekspansif. Berdasarkan lokasi proyek, penyaluran kredit tumbuh 7,18 persen (yoy) menjadi Rp144,49 triliun per Desember 2025. Kredit investasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 16,21 persen (yoy), yang didominasi sektor akomodasi, makan-minum, dan real estat.
OJK juga mencatat penyaluran kredit kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyerap 51,11 persen dari total kredit di Bali. Kredit UMKM tumbuh 3,91 persen, yang disebut lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan UMKM nasional.
Di sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross tercatat 2,44 persen, menurun dari 2,94 persen pada Desember 2024. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp203,97 triliun dengan pertumbuhan 7,49 persen (yoy).
Aktivitas pasar modal di Bali turut menunjukkan peningkatan. Jumlah investor naik 22,69 persen (yoy) menjadi 359.262 Single Investor Identification (SID). Nilai transaksi saham juga meningkat 72,49 persen (yoy) menjadi Rp6,78 triliun.
Untuk pembiayaan digital, penyaluran fintech peer-to-peer (P2P) lending tumbuh 40,59 persen menjadi Rp2,10 triliun. Meski meningkat, tingkat wanprestasi (TWP 90) dilaporkan tetap terkendali di level 2,13 persen.
OJK Bali juga menekankan penguatan literasi dan perlindungan konsumen sebagai bagian dari menjaga stabilitas sektor keuangan. Sepanjang 2025, tercatat lebih dari 11.922 kegiatan edukasi telah dilaksanakan dan menjangkau hampir satu juta warga Bali. OJK mengingatkan masyarakat agar memegang prinsip Legal dan Logis (L-L) sebelum berinvestasi.
Dalam keterangan resmi pada Selasa (24/2/2026), Kristrianti menyampaikan stabilitas tidak hanya ditopang indikator makro, tetapi juga kecerdasan finansial masyarakat. Di sisi lain, OJK mencatat rasio permodalan (CAR) bank perkreditan rakyat (BPR) di Bali berada pada level 27,26 persen, disertai likuiditas yang dinilai memadai sebagai bantalan mitigasi risiko menghadapi ketidakpastian ekonomi pada 2026.

