CNBC Indonesia menggelar Market Outlook 2026 bertema “Capital Market Reform: Integrity and Credibility” sebagai forum untuk membaca arah pasar serta peluang pertumbuhan baru. Acara ini menghadirkan perspektif regulator, pengambil kebijakan, dan pelaku utama industri investasi.
Dalam forum tersebut, Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyampaikan komitmen reformasi bursa saham Indonesia. Reformasi diarahkan untuk meningkatkan transparansi dan likuiditas, sekaligus memperkuat kepercayaan investor.
OJK juga menyoroti tantangan eksternal yang dapat memengaruhi pasar, termasuk gejolak geopolitik di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat ke Iran. Menurut paparan dalam acara itu, eskalasi konflik berpotensi berdampak pada rantai pasok minyak mentah dunia, yang pada gilirannya bisa memengaruhi perekonomian dan pasar keuangan Indonesia sehingga perlu diantisipasi.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, OJK berharap langkah reformasi dan penguatan tata kelola pasar modal dapat meningkatkan kepercayaan investor serta memperkuat daya tarik bursa saham Indonesia.
Untuk mempercepat reformasi integritas pasar modal Indonesia, OJK menyiapkan delapan rencana aksi, yakni kebijakan baru terkait free float, transparansi ultimate beneficial owner (UBO), penguatan data kepemilikan saham, demutualisasi bursa efek, penegakan peraturan dan sanksi, penguatan tata kelola emiten, pendalaman pasar secara terintegrasi, serta kolaborasi dan sinergi dengan para pemangku kepentingan.
Pembahasan ini disampaikan dalam Market Outlook 2026 yang ditayangkan pada Selasa, 3 Maret 2026.

