Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto menilai kondisi sektor jasa keuangan di wilayah eks Karesidenan Banyumas hingga Desember 2025 tetap stabil dan menunjukkan pertumbuhan positif. Penilaian ini terlihat dari sejumlah indikator kinerja, terutama pada sektor perbankan, di tengah ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global.
Kepala Kantor OJK Purwokerto Haramain Billady menyampaikan, kinerja perbankan secara umum masih solid. Hingga akhir Desember 2025, aset perbankan yang terdiri dari bank umum serta Bank Perkreditan Rakyat dan BPR Syariah (BPR/S) tumbuh 3,67 persen secara tahunan (year on year/yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 4,31 persen (yoy), sementara kredit mengalami kontraksi tipis 0,04 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kinerja bank umum di wilayah kerja OJK Purwokerto.
Secara rinci, aset bank umum tercatat tumbuh 2,82 persen (yoy) dan DPK meningkat 5,91 persen (yoy). Namun, penyaluran kredit bank umum juga mengalami kontraksi tipis sebesar 0,03 persen (yoy).
Di sisi lain, kinerja BPR/S menunjukkan dinamika berbeda. Per Desember 2025, DPK BPR/S naik 0,47 persen (yoy), tetapi aset dan kredit masing-masing mengalami kontraksi sebesar 1,95 persen (yoy) dan 2,73 persen (yoy). Tingkat kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) BPR/S masih tergolong tinggi, yakni 21,97 persen. Kondisi ini dipengaruhi proses normalisasi kredit restrukturisasi Covid-19, di mana sejumlah portofolio kredit stimulus yang sebelumnya direstrukturisasi dinilai tidak mampu bertahan berdasarkan hasil assessment.
Dari sisi portofolio, penyaluran kredit BPR/S masih didominasi kredit produktif, khususnya kredit modal kerja dengan pangsa 54 persen. Sebanyak 60 persen pembiayaan disalurkan ke segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Adapun sektor terbesar berada pada Bukan Lapangan Usaha, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Konstruksi.
Pada sektor pasar modal, jumlah investor saham dan reksa dana di wilayah kerja OJK Purwokerto tercatat meningkat signifikan. Investor saham tumbuh 38,20 persen (yoy), sedangkan investor reksa dana naik 35,87 persen (yoy). Peningkatan jumlah investor tersebut diikuti kenaikan nilai transaksi sebesar Rp2.073 miliar atau tumbuh 98,38 persen. Pertumbuhan ini didominasi investor muda berusia 21 hingga 30 tahun.
Untuk sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di wilayah eks Karesidenan Banyumas mencatatkan pertumbuhan positif. Aset LKM tumbuh 5,72 persen (yoy), DPK meningkat 10,41 persen (yoy), dan kredit naik 18,34 persen (yoy).
Sementara itu, industri perusahaan pembiayaan mencatat total penyaluran pembiayaan sebesar Rp4.138 miliar hingga Desember 2025. Porsi terbesar pembiayaan disalurkan ke sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil serta Sepeda Motor dengan pangsa 21 persen.
Berbeda dengan sektor lainnya, industri asuransi jiwa dan asuransi umum di wilayah eks Karesidenan Banyumas mencatat penurunan premi sebesar 23,26 persen (yoy) menjadi Rp653,63 miliar.
Dari sisi pelindungan konsumen, hingga akhir Januari 2026 Kantor OJK Purwokerto menerima 109 pengaduan konsumen jasa keuangan. Selain itu, terdapat 1.114 permintaan laporan Informasi Debitur melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang diakses lewat laman idebku.ojk.go.id. Pengaduan didominasi persoalan terkait SLIK, restrukturisasi kredit, agunan, pelunasan kredit, serta pelayanan Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK).
Dalam upaya meningkatkan literasi keuangan, OJK Purwokerto juga melaksanakan empat kegiatan edukasi yang menjangkau 1.467 peserta. Kegiatan meliputi edukasi kepada jemaat Gereja Kristen Indonesia Purwareja Klampok, pelajar SMKN 1 Purwokerto, serta program Ngopi Ngapak yang membahas kendala pengajuan kredit (SLIK) dan kejahatan keuangan digital.
Haramain menegaskan OJK akan terus mencermati perkembangan sektor jasa keuangan di wilayahnya serta bersinergi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah dinamika global dan domestik.

