BERITA TERKINI
OJK NTB Perluas Literasi Keuangan ke Pesantren, Bekali Santri Waspada Investasi Bodong dan Pinjol Ilegal

OJK NTB Perluas Literasi Keuangan ke Pesantren, Bekali Santri Waspada Investasi Bodong dan Pinjol Ilegal

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nusa Tenggara Barat (NTB) memperluas program literasi keuangan dengan melibatkan lingkungan pondok pesantren. Langkah ini dinilai strategis karena pesantren merupakan salah satu pusat pendidikan dengan komunitas besar, sekaligus memiliki aktivitas ekonomi yang cukup aktif.

Kepala OJK NTB Rudi Sulistyo mengatakan kolaborasi dengan pesantren menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem literasi dan inklusi keuangan yang lebih luas di masyarakat. Menurutnya, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi umat.

“OJK berusaha untuk berkolaborasi di banyak tempat, termasuk salah satunya pondok pesantren,” kata Rudi dalam kegiatan literasi keuangan di Pondok Pesantren Nurul Hikmah, Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Jumat, 13 Februari 2026.

Rudi menjelaskan OJK memiliki program pengembangan ekosistem yang disebut EPICS. Program ini sebelumnya dikenal sebagai ekosistem pesantren, namun kini diperluas menjadi pusat impuls keuangan sehari-hari bagi masyarakat.

“Sekarang karena diperluas menjadi pusat impuls keuangan sehari-hari. Program ini juga sudah dilakukan di beberapa tempat dan ke depan kemungkinan akan bertambah lagi,” ujarnya.

Melalui program tersebut, OJK berharap literasi keuangan meningkat, khususnya bagi santri dan komunitas pesantren yang mulai terlibat dalam aktivitas ekonomi dan kewirausahaan. Materi yang diberikan, kata Rudi, tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga mencakup praktik langsung untuk mengenal produk dan layanan keuangan.

Edukasi yang disampaikan meliputi pemahaman mengenai perbankan, layanan keuangan digital, hingga peluang usaha berbasis agen layanan keuangan.

“Literasinya banyak, ada yang terkait dengan produk-produk keuangan, baik itu teori maupun praktik. Mereka juga bisa membuka gerai-gerai seperti agen laku pandai atau agen perdagangan,” jelasnya.

Rudi menilai literasi keuangan penting bagi santri sebagai bagian dari generasi muda yang sedang memulai perjalanan ekonomi dan finansial. Dengan pemahaman yang baik, mereka diharapkan mampu mengelola keuangan secara bijak sejak dini.

Selain itu, literasi keuangan juga diposisikan sebagai langkah pencegahan agar generasi muda tidak terjebak dalam praktik investasi ilegal maupun pinjaman online yang tidak terdaftar.

“Harapan kami para remaja ini mendapat banyak edukasi, termasuk terkait penggunaan produk keuangan digital. Jangan sampai mereka tertipu investasi bodong atau pinjaman online ilegal,” tegasnya.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Nurul Hikmah Langko, TGH Azhar Rasyidi, menyambut baik program literasi keuangan yang digagas OJK. Ia menilai kegiatan tersebut membuka ruang bagi pesantren untuk lebih aktif dalam pengembangan ekonomi.

“Kita justru bersyukur sekali dengan adanya program ini sehingga pesantren juga lebih membuka diri,” kata Azhar.

Azhar mengakui pesantren memiliki aktivitas ekonomi yang cukup besar. Ia menyebut perputaran uang yang terjadi setiap hari di lingkungan pesantren menunjukkan potensi ekonomi yang tidak kecil.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa pesantren juga memiliki ekonomi. Perputaran uang di pesantren setiap hari cukup tinggi,” ujarnya.

Dengan pendampingan dan literasi dari OJK, Azhar berharap pengelolaan ekonomi di pesantren dapat semakin tertata dan berkembang lebih baik ke depan.

“Ke depan tentu ini akan menambah semangat bagi pesantren untuk berkembang dan mengelola ekonomi dengan lebih baik,” tambahnya.

Program literasi keuangan di pesantren ini diharapkan dapat melahirkan generasi santri yang tidak hanya kuat dalam pendidikan agama, tetapi juga memiliki pemahaman finansial yang baik serta mampu berperan dalam penguatan ekonomi masyarakat.