BERITA TERKINI
OJK: Investor Pasar Modal di Bali Tumbuh 22,69% pada 2025, Nilai Kepemilikan Saham Naik 47,39%

OJK: Investor Pasar Modal di Bali Tumbuh 22,69% pada 2025, Nilai Kepemilikan Saham Naik 47,39%

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat jumlah investor pasar modal di Bali mencapai 359.262 Single Investor Identification (SID) pada 2025. Angka itu tumbuh 22,69% dibandingkan periode yang sama pada 2024.

Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu mengatakan pertumbuhan investor tersebut diikuti kenaikan nilai kepemilikan saham yang mencapai Rp7,69 triliun atau meningkat 47,39% pada periode yang sama. Menurutnya, kenaikan itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara buka puasa bersama media pada Senin (23/2/2026).

Aktivitas transaksi investor juga menunjukkan peningkatan. Nilai transaksi saham investor di Bali tercatat sebesar Rp6,78 triliun, melonjak 72,49%. Puji menilai kinerja tersebut mencerminkan partisipasi investor ritel daerah yang semakin aktif di pasar modal. Di luar pasar saham, ia menyebut kinerja sektor pembiayaan relatif moderat.

Dalam konteks nasional, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya menyampaikan jumlah investor pasar modal tercatat sebanyak 20.364.208 SID. Penambahan jumlah investor pasar modal pada 2025 disebut mencapai 5.492.569 SID.

BEI juga melaporkan jumlah investor saham pada Januari 2026 hampir menyentuh 9 juta SID, tepatnya 8.980.318 SID. Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan jumlah itu meningkat 367.958 SID dibandingkan akhir 2025 yang berada di level 8.612.360 SID, setelah sepanjang 2025 bertambah 2.230.916 SID. Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Pada kesempatan terpisah, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menyebut porsi investor institusi berada di kisaran 15% hingga 20% dari total investor pasar modal pada 2025. Ia mengatakan BEI tengah berdiskusi dengan sejumlah institusi dan berharap institusi lokal dapat berperan lebih besar.

Irvan menambahkan, BEI belum berdiskusi lebih lanjut dengan investor institusi dari lembaga dana pensiun dan perusahaan asuransi. Meski demikian, BEI mengklaim telah berdiskusi dengan asosiasi serta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) atau Danantara Indonesia.

BEI berharap Danantara dapat masuk ke pasar saham pada tahun ini. Menurut Irvan, peluang keterlibatan Danantara antara lain melalui pelaksanaan penawaran umum perdana saham (IPO) anak-anak usaha badan usaha milik negara (BUMN) yang dinaungi Danantara, serta melalui perusahaan manajemen aset PT Danantara Asset Management (Persero). Ia menyebut diskusi antara BEI dan Danantara Asset Management dilakukan pada akhir 2025.