JAKARTA – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi pemasukan tambahan yang dinantikan banyak pekerja. Dana ini kerap digunakan untuk berbagai kebutuhan Lebaran, seperti mudik, membeli pakaian baru, hingga berbagi dengan keluarga.
Namun, tanpa perencanaan, kenaikan pengeluaran menjelang Lebaran dapat membuat THR cepat habis dan tidak memberi dampak jangka panjang bagi keuangan keluarga. Karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui portal literasi keuangan Sikapi Uangmu mengimbau masyarakat menyusun rencana penggunaan THR sejak awal untuk mencegah pengeluaran berlebihan yang berujung pada kesulitan keuangan setelah libur Lebaran.
Dalam materi edukasi yang dipublikasikan di laman sikapiuangmu.ojk.go.id, OJK menekankan pentingnya menentukan prioritas penggunaan dana dengan mendahulukan kewajiban sebelum pengeluaran konsumtif.
“Dengan membuat rencana keuangan yang jelas, penggunaan THR dapat diatur secara lebih bijak. Prioritaskan kebutuhan utama dan kewajiban sebelum dialokasikan untuk kebutuhan konsumtif,” tulis OJK dalam materi edukasi literasi keuangannya.
OJK menyarankan agar masyarakat lebih dulu menunaikan kewajiban seperti zakat dan sedekah, serta membayar utang atau cicilan yang jatuh tempo. Penyelesaian kewajiban sejak awal dinilai dapat membantu mengurangi beban finansial pada bulan-bulan berikutnya.
Selain itu, masyarakat dianjurkan menyisihkan sebagian THR untuk memperkuat dana darurat. Cadangan ini berfungsi untuk menghadapi kondisi tak terduga, misalnya kebutuhan kesehatan mendadak atau pengeluaran penting lainnya.
Sejumlah panduan literasi keuangan dari sektor perbankan juga mengingatkan agar THR tidak dihabiskan seluruhnya untuk konsumsi. Sebagian dana dapat dialokasikan untuk tabungan maupun investasi guna memperkuat kondisi keuangan dalam jangka panjang. Dalam beberapa panduan tersebut, masyarakat dianjurkan menyisihkan sekitar 10 hingga 20 persen dari total THR untuk tabungan atau investasi, dengan pilihan instrumen yang umum antara lain emas, reksa dana, maupun obligasi negara yang dinilai relatif stabil.
Kesadaran mengelola THR secara terencana mulai diterapkan sebagian masyarakat. Siti Rahmawati (37), warga Jakarta Utara, mengatakan keluarganya kini rutin membuat daftar pengeluaran sebelum menggunakan THR yang diterima suaminya.
“Biasanya kami buat daftar dulu sebelum uangnya cair. Mana untuk kebutuhan Lebaran, mana yang harus masuk tabungan sekolah anak. Kalau tidak disiplin seperti ini, uangnya cepat sekali habis,” ujarnya.
Menurut Siti, kebiasaan tersebut membantu keluarganya menjaga kondisi keuangan tetap stabil setelah Lebaran.
Untuk membuat penggunaan THR lebih terarah, berbagai panduan literasi keuangan merangkum langkah-langkah yang dapat dilakukan masyarakat, antara lain menyusun daftar pengeluaran sejak awal, mendahulukan kewajiban seperti zakat, sedekah, serta pembayaran utang atau cicilan, menghindari belanja impulsif terutama karena promosi musiman, menyisihkan dana darurat, serta mempertimbangkan tabungan atau investasi agar THR tetap memberi manfaat jangka panjang.
Dengan pengelolaan yang tepat, THR tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan Lebaran, tetapi juga dapat membantu menjaga stabilitas keuangan keluarga setelah hari raya.