Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah guna mendorong pertumbuhan industri keuangan syariah yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Upaya ini dilakukan melalui edukasi keuangan syariah bagi Majelis Taklim An-Nisa Yogyakarta di Kantor OJK DIY, Sabtu, 28 Februari 2026, sebagai bagian dari rangkaian Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) bertema “Investasi Syariah: Aman dari Riba, Cuan Maksimal”.
Kepala OJK DIY Eko Yunianto mengatakan, tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia masih tertinggal dibandingkan keuangan konvensional sehingga memerlukan penguatan edukasi secara berkelanjutan. Mengacu pada Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan syariah tercatat 43,42 persen dengan inklusi 13,41 persen. Sementara itu, literasi keuangan konvensional mencapai 66,46 persen dan inklusinya 79,71 persen.
“Kondisi ini menunjukkan perlunya edukasi yang lebih intensif, khususnya bagi generasi muda, pelaku UMKM, serta komunitas sosial dan keagamaan,” kata Eko.
Ia menambahkan, investasi syariah tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga keberkahan dan ketenangan jiwa karena dijalankan sesuai prinsip syariah. “Investasi syariah merupakan ikhtiar untuk mengoptimalkan harta agar tidak idle atau menganggur. Dengan berinvestasi sesuai prinsip syariah, masyarakat tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga ketenangan karena bebas dari riba serta memiliki bekal masa depan yang lebih terencana,” ujarnya.
Melalui kegiatan KOLAK (Kajian dan Obrolan Seputar Keuangan Syariah), OJK DIY berharap semakin banyak masyarakat memahami manfaat dan kemudahan layanan keuangan syariah yang aman, inklusif, dan memberi maslahat. Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) sekaligus Pembina Majelis Taklim An-Nisa’ Yogyakarta, Ahmad Zuhdi Mudlor.
Dalam sambutannya, Ahmad Zuhdi Mudlor menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan edukasi tersebut dan menekankan pentingnya literasi keuangan syariah. Ia juga menyebut ekonomi syariah Indonesia berada di peringkat ke-3, masih di bawah Malaysia dan Saudi Arabia. “Kami haturkan terima kasih sebesar-besar nya kepada OJK DIY yang telah memberi kesempatan kepada ibu-ibu muda ini untuk mendapatkan ilmu terkait Keuangan Syariah dan Ekonomi Syariah di Indonesia itu diranking ke-3, masih kalah dari Malaysia dan Saudi Arabia, sedangkan penduduk muslim kita terbesar sedunia. Oleh karena itu literasi keuangan Syariah ini sangat penting dan tantangan positif bagaimana memberi penjelasan kepada masyarakat terkait Ekonomi Syariah,” katanya.
Edukasi ini diikuti 230 peserta dari Majelis Taklim An-Nisa, yang merupakan komunitas perempuan/ibu-ibu dari Nahdlatul Ulama (NU). Sejumlah narasumber dihadirkan, antara lain Pengawas Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen, Keuangan Daerah dan Layanan Manajemen Strategis OJK DIY Susana Diah Kusumaningrum, Pemimpin Cabang PT Pegadaian Syariah Kusumanegara Sophia Puspita Sari, serta Islamic Financial Planner (IFP) Harryka Joddy Pangalabuan.
Selain KOLAK, rangkaian program OJK DIY selama Ramadan dalam GERAK Syariah meliputi edukasi keuangan syariah melalui Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan Syariah (SiCANTIKS) dan Training of Trainer, SIMOLEK Ngabuburide, podcast, serta kompetisi keuangan syariah seperti Lomba Financial Da’i Cilik dan Weekly Quiz Ramadan.
OJK DIY mengimbau masyarakat berinvestasi dengan mengedepankan prinsip 2L, yakni legal dan logis, serta sesuai prinsip syariah, agar terhindar dari penipuan berkedok investasi dan memastikan manfaat finansial yang halal. OJK DIY juga menegaskan komitmennya untuk terus mendorong perkembangan keuangan syariah melalui edukasi berkelanjutan, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta perluasan akses layanan keuangan syariah yang aman dan berkeadilan.

