Musim laporan keuangan kuartal IV-2025 diperkirakan berlangsung relatif stabil. Berdasarkan hitungan Maybank Sekuritas, mayoritas emiten dalam cakupannya membukukan kinerja yang sejalan dengan ekspektasi pasar.
Dari 61 perusahaan dalam cakupan Maybank Sekuritas, tujuh emiten telah merilis hasil kinerja. Maybank memproyeksikan 31 emiten mencatatkan laba sesuai perkiraan, 10 emiten berpotensi melampaui ekspektasi, sementara 13 emiten lainnya diperkirakan berada di bawah proyeksi.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim, menilai hasil awal musim pelaporan masih bernada netral dan belum menunjukkan penguatan yang luas. Menurutnya, kinerja kuartalan lebih banyak ditentukan oleh faktor spesifik masing-masing perusahaan ketimbang dorongan makro yang kuat. Pernyataan itu disampaikan dalam riset tertanggal 24 Februari 2026.
Sejauh ini, sektor perbankan dinilai menunjukkan kinerja yang relatif solid. Dari tujuh emiten yang sudah melaporkan kinerja, dua emiten disebut mencatatkan hasil di atas ekspektasi, yakni Bank Mandiri (BMRI) dan Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT). Sementara itu, Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Syariah Indonesia (BRIS) membukukan laba sejalan dengan ekspektasi. Di sisi lain, Unilever Indonesia (UNVR) dan XL Axiata (EXCL) mencatatkan hasil di bawah perkiraan.
BMRI menjadi sorotan setelah laba bersih kuartal IV-2025 melonjak 40% secara kuartalan dan 35% secara tahunan menjadi Rp 18,6 triliun. Dengan capaian tersebut, laba tahun buku 2025 Bank Mandiri mencapai Rp 56,3 triliun atau tumbuh 5% secara tahunan, dan berada di atas ekspektasi internal maupun konsensus.
BBCA membukukan laba kuartal IV-2025 sebesar Rp 14,1 triliun, naik 3% secara tahunan. Sepanjang 2025, laba BBCA tercatat Rp 57,5 triliun atau naik 5% secara tahunan, sesuai estimasi.
BBRI mencatatkan laba kuartal IV-2025 sebesar Rp 4,9 triliun, naik 4%. Adapun laba sepanjang 2025 meningkat 7% secara tahunan menjadi Rp 20 triliun, sejalan dengan proyeksi.
Untuk BRIS, laporan menyebut pertumbuhan laba stabil dengan kenaikan 8% secara tahunan menjadi Rp 7,6 triliun pada tahun 2026.
Maybank menilai kualitas aset perbankan tetap terjaga dan pertumbuhan kredit masih sehat. Namun, normalisasi net interest margin (NIM) disebut kembali membatasi ruang kenaikan kinerja dalam jangka pendek. Untuk bank lain, Bank Jago (ARTO) diperkirakan mencatatkan kinerja stabil yang ditopang biaya kredit terkendali dan pertumbuhan neraca, sementara Bank CIMB Niaga (BNGA) dinilai berpotensi mengalami pemulihan margin yang lebih lambat.
Di sektor konsumen, Maybank melihat divergensi yang semakin jelas. Emiten staples tertentu seperti HM Sampoerna (HMSP) dan Indolakto (KEJU) diperkirakan mencatatkan kinerja relatif lebih baik berkat disiplin margin, biaya input yang lebih kondusif, serta perbaikan bauran produk.
Namun, sejumlah emiten ritel dan konsumen seperti Mayora Indah (MYOR), Nippon Indosari Corpindo (ROTI), Sumber Alfaria Trijaya (AMRT), Aspirasi Hidup Indonesia (ACES), Ramayana Lestari Sentosa (RALS), dan Matahari Department Store (LPPF) disebut menghadapi tekanan margin. Faktor yang memengaruhi antara lain lemahnya daya beli, meningkatnya persaingan, depresiasi nilai tukar, serta kenaikan harga bahan baku. Meski demikian, Maybank mencatat adanya indikasi awal pemulihan belanja segmen berpendapatan rendah menjelang Januari 2026.
UNVR kembali dinilai mengecewakan. Laba bersih UNVR pada 2025 sebesar Rp 3,5 triliun disebut hanya mencapai 81% dari estimasi Maybank, mencerminkan tekanan margin yang berlanjut serta pemulihan harga jual rata-rata (ASP) yang lebih lambat.
Di sektor telekomunikasi, ISAT mencatatkan kinerja kuat dengan laba kuartal IV-2025 naik 54% secara kuartalan dan 86% secara tahunan menjadi Rp 1,9 triliun. Sepanjang 2025, laba ISAT mencapai Rp 5,2 triliun, naik 5% secara tahunan dan melampaui ekspektasi. Pendorongnya antara lain pertumbuhan pendapatan, disiplin biaya, pemulihan ARPU, serta ekspansi 5G. Sebaliknya, EXCL disebut membukukan perbaikan secara kuartalan, namun secara tahunan masih mencatatkan rugi bersih dan berada di bawah proyeksi.
Pada sektor komoditas dan energi, kinerja dinilai selektif. Vale Indonesia (INCO) diperkirakan mencatatkan laba kuat berkat volume penjualan yang lebih tinggi, sementara Medco Energi Internasional (MEDC) berpotensi memperoleh kontribusi positif dari Amman Mineral Internasional (AMMN). Namun, normalisasi margin gas berpotensi menekan Perusahaan Gas Negara (PGAS), sedangkan gangguan operasional dapat membebani United Tractors (UNTR) serta Bumi Resources Minerals (BRMS).
Sektor properti menjadi sorotan positif seiring musim serah terima unit pada kuartal IV. Lippo Karawaci (LPKR) dan Summarecon Agung (SMRA) diperkirakan mencatatkan kinerja di atas ekspektasi. Sementara Bumi Serpong Damai (BSDE), Ciputra Development (CTRA), dan Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) diproyeksikan membukukan pertumbuhan kuartalan yang kuat. Emiten berbasis pendapatan berulang seperti Pakuwon Jati (PWON) dinilai tetap menawarkan visibilitas laba yang stabil.
Secara keseluruhan, hasil awal musim pelaporan menunjukkan stabilitas di sektor perbankan, kekuatan selektif di telekomunikasi yang dipimpin ISAT, serta tekanan yang masih berlanjut di sektor konsumen. Jeffrosenberg menegaskan pemulihan margin akan menjadi faktor penentu utama lintas sektor ke depan.

