Jakarta—Pasar saham Indonesia dinilai masih menawarkan prospek menarik meski dalam beberapa waktu terakhir bergerak fluktuatif. Riset Mandiri Sekuritas menilai valuasi pasar saat ini relatif atraktif dan ditopang potensi pertumbuhan kinerja emiten dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam riset yang dirilis pada 5 Maret 2026, Mandiri Sekuritas mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.577 dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp13.521,9 triliun. Nilai transaksi harian tercatat sekitar Rp28,7 triliun.
Dari sisi valuasi, Mandiri Sekuritas memperkirakan price to earnings ratio (PER) pasar saham Indonesia berada di kisaran 11,7 kali pada 2026 dan 10,4 kali pada 2027. Sementara price to book value (PBV) diproyeksikan sekitar 1,6 kali pada 2026 dan 1,5 kali pada 2027.
Dengan proyeksi tersebut, pasar saham domestik dinilai masih cukup menarik bagi investor, terutama jika dikaitkan dengan potensi pertumbuhan laba emiten yang tetap positif.
Mandiri Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS) emiten di Bursa Efek Indonesia dapat mencapai sekitar 14,3% pada 2026 dan 12,4% pada 2027. Sementara pertumbuhan EBITDA diperkirakan berada di kisaran 12,6% pada 2026 dan 8,5% pada 2027.
Selain itu, pasar saham Indonesia juga dinilai menawarkan imbal hasil dividen yang kompetitif. Dividend yield diperkirakan sekitar 4,7% pada 2026 dan berpotensi meningkat menjadi sekitar 5,3% pada 2027.
Sentimen global dan indikator makro
Riset tersebut juga menekankan bahwa pergerakan pasar global masih menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen investor di pasar domestik. Sejumlah indeks saham utama dunia menunjukkan kinerja beragam, dengan Dow Jones menguat sekitar 0,5%, S&P 500 naik 0,8%, dan Nasdaq meningkat 1,3%. Di Eropa, indeks DAX naik 1,7% dan FTSE 100 menguat 0,8%.
Di Asia, beberapa indeks justru terkoreksi, antara lain Nikkei yang turun sekitar 3,6% dan Hang Seng yang melemah sekitar 2%.
Dari sisi makroekonomi, nilai tukar rupiah tercatat berada di kisaran Rp16.877 per dolar AS. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun berada di level sekitar 6,61%.
Mandiri Sekuritas juga mencatat arus dana asing di pasar saham masih mengalami outflow sekitar US$408,5 juta secara year-to-date. Di sisi lain, pasar obligasi mencatat aliran dana masuk sekitar US$27,2 juta.
Rekomendasi saham
Dalam riset yang sama, Mandiri Sekuritas menyoroti sejumlah saham yang dinilai menarik untuk dicermati. Di sektor perbankan, rekomendasi buy diberikan untuk BBCA, BBNI, BBRI, dan BBTN. Bank-bank tersebut dinilai memiliki fundamental kuat serta prospek pertumbuhan laba yang stabil.
Selain itu, saham bank syariah BRIS juga dinilai memiliki prospek pertumbuhan seiring meningkatnya penetrasi layanan keuangan syariah di Indonesia.
Pada sektor konsumsi, Mandiri Sekuritas mencantumkan ICBP, INDF, MYOR, dan KLBF sebagai saham yang masih menjadi pilihan karena permintaan domestik yang relatif stabil.
Sementara di sektor komoditas, UNTR, ANTM, dan INCO dinilai memiliki peluang pertumbuhan, terutama apabila didukung tren harga komoditas global.
Secara keseluruhan, Mandiri Sekuritas menilai pasar saham Indonesia masih menyimpan potensi pertumbuhan untuk jangka menengah hingga panjang. Valuasi yang relatif menarik, proyeksi pertumbuhan laba emiten, serta potensi dividen yang stabil disebut menjadi faktor utama yang menjaga daya tarik pasar modal domestik.

