Purwokerto, RRI.CO.ID — Manajemen keuangan dinilai semakin penting, termasuk bagi perempuan, seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi, serta kebutuhan ekonomi dan keuangan yang kian meningkat. Pembahasan mengenai uang dan perempuan kerap dikaitkan dengan anggapan materialistis, namun di sisi lain juga dipandang sebagai sesuatu yang realistis.
Hal itu mengemuka dalam dialog Pengarus Utamaan Gender Pro 1 RRI Purwokerto bersama Siti Latifah, A.Md, Sekretaris Kelurahan Bojong, Purbalingga, yang mengangkat tema “Uang dan Perempuan: Dari Cemas jadi Cerdas”. Dalam dialog tersebut, Siti Latifah menyampaikan bahwa kecemasan perempuan terkait keuangan dapat diubah menjadi sikap yang lebih cerdas dan menguntungkan melalui pengelolaan yang tepat.
Siti Latifah mengibaratkan hubungan perempuan dan uang seperti prangko dan surat yang tidak terpisahkan. Meski demikian, ia menekankan bahwa kebahagiaan tidak sepenuhnya dapat dibeli dengan uang. “Ada pepatah mengatakan, segalanya tidak mesti pakai uang, tapi kalau tidak ada uang, tidak bisa segalanya,” ujarnya.
Ia menambahkan, manajemen keuangan yang baik dapat membantu mengurangi rasa cemas. Salah satu langkah yang disarankan adalah membedakan antara “menyisakan” dan “menyisihkan” uang. Menurutnya, banyak orang justru cenderung menyisakan uang di akhir, bukan menyisihkan sejak awal.
Ia menjelaskan, menyisihkan pendapatan untuk kebutuhan terlebih dahulu menjadi salah satu cara mengelola keuangan dengan lebih baik, sementara sisa pendapatan baru digunakan untuk keperluan lainnya. Dengan pendekatan tersebut, manajemen keuangan disebut dapat membantu mengurai kecemasan sekaligus memastikan kebutuhan hidup tetap terpenuhi.

