BERITA TERKINI
KOSPI Anjlok 7,24% ke Level Terendah Sejak 20 Februari, Won Melemah di Tengah Kekhawatiran Konflik Timur Tengah

KOSPI Anjlok 7,24% ke Level Terendah Sejak 20 Februari, Won Melemah di Tengah Kekhawatiran Konflik Timur Tengah

Pasar saham Korea Selatan melemah tajam pada penutupan perdagangan Selasa (2/3). Indeks Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) merosot 452,22 poin atau 7,24% ke level 5.791, menandai penutupan terendah sejak 20 Februari 2026 ketika indeks berakhir di posisi 5.808,53.

Menurut laporan Kantor Berita Yonhap yang dikutip kumparan, penurunan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi geopolitik seiring konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung.

Di tengah tekanan pasar, operator bursa utama Korea Selatan, Korea Exchange (KRX), menerapkan kebijakan sell side sidecar selama lima menit sekitar tengah hari. Kebijakan ini menangguhkan penjualan kontrak berjangka KOSPI untuk sementara waktu.

Tekanan juga terlihat pada nilai tukar won Korea. Mata uang won melemah ke posisi 1.466,1 won per dolar Amerika Serikat pada pukul 15.30 waktu setempat, turun 26,4 won dibanding penutupan sesi sebelumnya.

Merespons kondisi tersebut, Kementerian Keuangan menyatakan pemerintah akan memantau pasar energi serta pasar keuangan, baik domestik maupun global, selama 24 jam penuh.

Pemerintah juga menyatakan siap menerapkan program stabilisasi pasar dengan dukungan dana setidaknya 100 triliun won atau sekitar USD 68,4 miliar jika diperlukan.

Kementerian mencatat pasar modal sempat mengalami guncangan hebat pada perdagangan hari itu. Sementara itu, meski harga minyak internasional masih berfluktuasi, kementerian menyebut laju kenaikan harga mulai menunjukkan tanda-tanda melambat.

Pemerintah turut menegaskan akan menindak tegas praktik pasar yang tidak adil, termasuk operasi penyebaran berita bohong yang dinilai berupaya memanfaatkan sentimen negatif investor.

Wakil Menteri Keuangan Lim Ki Keun memerintahkan pejabat kementerian untuk memantau pelaksanaan anggaran pemerintah secara menyeluruh. Ia menyatakan fokus pemantauan diarahkan pada perusahaan ekspor, perusahaan pelayaran, serta warga negara Korea Selatan yang berada di luar negeri guna meminimalkan dampak kerugian yang terkait dengan krisis tersebut.